Kamis, 19 Desember 2013

Korban Papaku

Saya mengalamai pengalaman sex pertama saya dengan seorang laki-laki yang sebelumnya saya sangat respek padanya, laki-laki itu adalah papa saya sendiri.

Papa mempunyai kebiasaan yang buruk yaitu senang sekali bermabuk-mabukan dan membawa wanita jalanan ke rumah ketika mama sedang mengurusi bisnisnya ke luar negeri.
Papa dulunya seorang businessman yang sangat sukses yang bergerak di bidang jasa perbaikan kendaraan, bahkan bengkel papa sebelumnya sangat terkenal di negeri ini karena kekhususannya mengurusi mobil-mobil mewah.
Add caption

Dulu papa sangat perhatian dan sangat sayang kepada kami, sampai akhirnya ketika krismon melanda negeri ini, kelakuan papa berubah 180 derajat, mulai dari bermabuk-mabukan sampai bercinta dengan wanita jalanan di rumah kami sendiri.

Dua tahun telah berlalu setelah krismon, bisnis papa semakin terpuruk, sehingga kami terpaksa mengadu nasib di negeri kangguru. Kami tidak tahu kelakuan papa selanjutnya, karena papa tinggal sendirian di rumah di Jakarta dengan seorang pembantu laki-laki.

Sampai akhirnya ketika saya dan adik saya Dania (bukan nama sebenarnya) pulang liburan ke Jakarta pada tahun 2002. Ketika itu, papa memintaku untuk magang di bengkelnya. Seperti kondisi sebelumnya, memang sedikit sekali pelanggan yang datang ke bengkel papa, sehingga terlihat sangat sepi.

Pada suatu hari saya mendapati papa sedang mabuk di ruangan kerjanya. Ketika itu aku menghampiri papa untuk menegurnya. Entah kenapa tiba-tiba papa menarikku dan mencumbuiku dengan paksa. Dia memaksakan memasukkan lidahnya ke mulutku sambil tangan kanannya meremas pantatku dan tangan kirinya meremas payudaraku.

Aku sudah berusaha untuk mengelak darinya, tapi ternyata tenaga papa lebih besar dari tenagaku. Entah kenapa tiba-tiba ada suatu rasa yang nikmat yang menjalar di sekujur tubuhku, dan payudaraku terasa mulai mengeras. Papa mulai memainkan lidahnya di dalam mulutku, dan secara reflect lidahku membalasnya.

Aku merasakan celana dalamku mulai basah, dan aku sepertinya mulai terangsang oleh cumbuan papa. Peristiwa itu berlangsung selama 8 menit. Tiba-tiba papa melepas pagutan bibirnya dari bibirku, dan sepertinya dia mulai tersadar dari mabuknya. Papa mendorong tubuhku dan meminta maaf sambil menitikkan matanya penuh penyesalan.

Setelah itu saya segera pulang dengan mobilku sendiri, sedangkan papa masih harus melanjutkan pekerjaannya. Selama dalam perjalanan pulang, saya menangis karena masih terbayang dengan perbuatan papa tadi. Perasaan benci, kecewa, tapi bercampur dengan rasa nikmat yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan. Ketika sampai di rumah, saya mendapati celana dalam saya masih basah, dan saya langsung masuk ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa jijik saya.

Ketika saya mandi, saya masih membayangkan perbuatan papa tadi, sampai secara tidak sadar, saya meremas payudara saya. Saya mulai merasakan nikmat yang luar biasa, bercampur dengan guyuran shower yang mengalir di sekujur tubuhku. Siraman air shower terasa nikmat sekali di memek saya, dan secara tidak sadar, saya mulai mengelus memek saya.

Perasaan nikmat semakin menjadi-jadi sampai akhirnya seluruh tubuhku mulai mengejang dengan hebatnya, dan cairan hangat keluar dari memek saya. Setelah itu tubuh saya terasa lemas, dan akhirnya saya tertidur pulas setelah selesai mandi.

Keesokan paginya waktu saya sedang sarapan, papa kembali meminta maaf kepadaku, tetapi aku bingung menyikapinya, karena di lain sisi aku menginginkan kejadian kemarin terulang kembali.

Setelah itu papa berangkat ke kantor dan saya mengantarkan adik saya ke rumah temannya. Selama di kantor, segala sesuatu berjalan seperti biasa, sampai ketika saya hendak pulang, mobil saya tidak bisa dihidupkan, dan mekanik anak buah papa tidak sanggup menyelesaikannya hari itu juga.

Akhirnya saya ke ruangan papa untuk mengajak pulang bareng. Ternyata seperti biasa papa sedang mabuk-mabukan lagi. Walaupun sedang mabuk, papa masih tetap sadar dan mengajak saya untuk pulang saat itu juga. Segalanya berjalan dengan normal selama dalam perjalanan pulang, sampai di dekat rumahku, papa menghentikan mobilnya dan tiba-tiba dia membuka celananya dan memerintahkanku untuk memegangnya.

Tiba-tiba papa memanggilku dengan nama mamaku. "Nancy, tolong elus kontol gua dong, gua udah lama gak elu isepin!" Tentu saja aku kaget, ternyata selama mabuk, papa menganggapku sebagai mama, karena kemiripan mukaku dengan muka mama. Karena ada dorongan setan, aku mulai memegang dan mengulum kontol papa yang ternyata besar sekali sampai-sampai tidak cukup masuk ke dalam mulutku.

Secara reflek saya mulai memaju-mundurkan kepala saya dan mulai menjilati biji peler papa. Pada saat itu, papa mulai mengelus paha saya, dan akhirnya tangannya melepas celana dalamku. Kemudian jari-jarinya bermain di bibir memekku.

Selama lima menit, papa memainkan memekku, hingga akhirnya cairan hangat mengalir dari memekku, aku merasakan nikmat yang luar biasa. Setelah beberapa menit kemudian, aku sudah hampir sampai untuk kedua kalinya, tiba-tiba cairan putih keluar dari kontol papa, dan tertelan olehku, dan rasanya gurih sekali. Setelah itu, papa menjadi lemas dan mengeluarkan jarinya dari dalam memekku, sehingga aku merasa nanggung.

Saat itu juga, papa langsung tertidur di dalam mobil, dan karena merasa kesal, aku pulang jalan kaki, yang jaraknya tidak jauh dari rumahku.

Sampai di persimpangan jalan rumahku, aku bertemu dengan kakak kelasku di SMA yang sudah 2 tahun tidak ketemu, namanya Bang Jhonny (bukan nama sebenarnya) yang terkenal playboy waktu di SMA dulu. Tampang Bang Jhonny sebenarnya biasa-biasa saja, entah kenapa dia bisa menjadi playboy. Kami bersalaman dan dia berusaha memelukku dengan erat, aku berusaha menolaknya, karena tidak ingin Bang Jhonny tahu kalau celana dalamku basah.

Aku berlari ke rumahku, dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan memekku. Sambil mandi, aku mulai masturbasi kembali, karena perasaan nanggung tadi masih ada. Setelah selesai mandi, aku mengenakan daster tanpa celana dalam dan bra karena kebiasaanku setiap tidur. Setelah itu aku tidur tanpa sempat makan malam.

Pada saat aku sedang tidur nyenyak, aku merasakan ada yang sedang berusaha melepaskan tali dasterku. Karena masih capek akibat orgasme yang berulang kali tadi, aku tidak bisa terbangun. Tangan itu menjalar sampai ke payudaraku dan aku merasakan lidah sedang bermain di pentilku.

Tanpa sadar aku mengerang nikmat, dan membayangkan papaku sedang melakukannya. Kemudian bibir itu terus bergerak menuju leherku sampai akhirnya berhenti di bibirku. Aku membalas pagutan bibirnya dan tiba-tiba aku tersadar dan terbangun. Aku mendorong tubuh itu yang ternyata adalah papaku.

Dengan sekuat tenaga papa tetap memaksaku dan semakin liar perlakuannya kepadaku, sehingga dasterku robek, sehingga tubuh indahku terlihat di depan matanya. Dengan paksa dia mengangkangkan kedua kakiku dan mulai menjilati memekku. Aku berusaha menjauhkan kepala papa dari memekku sehingga papa terjengkang dari tempat tidur.

Papa segera bangkit dan menarik tubuhku sambil menampar pipiku dengan keras. Dilucutinya semua pakaiannya sehingga hanya tubuh polosnya yang terlihat. Tanpa basa-basi aku didorongnya kembali ke tempat tidur dan sekarang mencoba untuk memasukkan kontolnya ke lobang kenikmatanku.

Dengan pasrah aku menuruti kemauannya karena menurutku sudah percuma untuk menolak lagi. Dia mulai menggenjot memekku kedepan dan belakang. Karena aku berusaha melawan memekku terasa sangat perih, lagi pula saat itu aku masih perawan dan lubangnya sangat sempit. Tetapi setelah lama kelamaan ternyata aku mulai menikmati permainannya dan mulai menggerakkan pantatku naik turun. Beberapa lama setelah itu kurasa cairanku mendesak memek dan terasa akan keluar.

Dengan segera kupercepat gerakan pantatku dan akhirnya aku berteriak nikmat karena aku mencapai puncak kenikmatan. Beberapa saat kemudian papa membalikkan tubuhku dan mulai mengelus lubang pantatku serta menjilatinya. Aku yang sudah sangat lemas sebenarnya sangat jijik dengan perlakuannya, tetapi seperti sebelumnya aku hanya bisa pasrah. Papa yang sudah sangat bernafsu segera menghujamkan kontol besarnya ke dalam lubang pantatku.

Tanpa sadar ternyata meneteslah darah dari memek dan pantatku bercampur dengan cairan vaginaku. Aku berteriak dengan kerasnya karena rasa sakit luar bisa dari lubang pantatku. Mendengar teriakanku papa semakin nafsu menghujamkan kontolnya berkali-kali sambil menjambak rambutku dengan kerasnya. Papa semakin mempercepat gerankan kasarnya, dan seketika dia mengejang dan berteriak keras, aku merasa cairan sperma papa terus menerus mengalir masuk ke pantatku.

Setelah puas dengan semua prilakunya papa tergeletak lemas disampingku dan aku hanya bisa merenungi nasibku. Hilang sudah keperawananku yang selama ini kujaga dan ternyata harus kurelakan direnggut oleh orang yang sangat ku hormati dan sejak saat itu aku merasa telah berkhianat pada mamaku.

Walaupun setelah perawanku direnggutnya aku semakin sering melakukan hubungan sex dengan papa selama berada di Jakarta. Selain dengan papa, aku juga sering melakukan sex dengan Bang jhonny yang akhirnya menjadi pacarku.

Tapi kini Bang jhonny telah meninggalkanku untuk selama-lamanya karena dia overdosis narkoba. Karena telah sering melakukan hubungan sex, aku menjadi seorang maniak yang selalu butuh sentuhan lelaki.

Intan Anakku Yang Seksi

Namaku Herman, 35 tahun, adalah seorang  ayah duda dengan 2 orang anak. Badan sedikit atletis dengan tinggi badan yang mendukung. Sebagai lelaki yang tinggal di kota besar, sebagai wiraswasta di Bandung . Dengan tubuh tinggi kekar, dan kulit yang kuning, walau sudah menikah dan punya anak yang sudah cukup dewasa, tapi masih banyak wanita yang selalu menggodaku. Di samping istri lagi koma akibat kecelakaan, kesetiaan kepada istriku tdk menghiraukan segalanya.

Anaknya yang paling besar, Intan, 16 tahun, seorang anak yang yang baik dan penurut pada orang tuanya. Anak kedua, Yenny, 14 tahun, seorang anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Dalam Kehidupan sexual Marlina (istriku) sebetulnya tidak ada masalah sama sekali berhubung dia lagi koma, agak menahan gimana gejolak jika adik keci beranjak. Walau banyak wnita klienku yang menggoda, tak sedikitpun ada niat dia untuk mengkhianati Marlina.

Tapi ada sesuatu yang berubah dalam diri Herman ketika suatu hari secara tidak sengaja melihat anak pertamanya intan, sedang berpakaian setelah mandi. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Herman dengan jelas melihat Intan telanjang. Matanya tertuju pada gundukan  dan vagina lebat intan yang dihiasi dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.

Sejak saat itu Herman pikirannya selalu teringat pada tubuh telanjang anaknya itu. Bahkan seringkali Herman memperhatikan intan bila sedang makan, sedang duduk, atau sedang apapun bila ada kesempatan. Ingin Menjamah Tubuh Anak Kandungnya, Tapi antara Takut dan berani. Sehingga selalu ngintip anaknya di saat mandi dan sambil menggosok-gosok penisnya ke tembok.

"Ada apa pa, kok liatin intan terus?" tanya intan ketika Herman memperhatikannya di ruang tamu.
"Tidak ada apa-apa, sayang.. Hanya saja papa jadi senang karena melihat kamu makin besar dan dewasa," ujar Herman sambil tersenyum.
"Kamu sudah punya pacar, tan ?" tanya Herman.
"Pacar resmi sih belum ada, tapi kalau sekedar teman jalan sih ada beberapa. Memangnya kenapa, Pa?" tanya Intan.
"Ah, tidak. papa hanya pengen tahu saja," ujar Herman.
"Kamu pernah kissing?" tanya Herman.
"Ah, Papa.. Pertanyaannya bikin malu Intan ah..." Ujar intan sambil tersenyum.
"Yaa.. Tidak apa-apa kok,sayang.. Jujur saja pada Papa. Papa juga pernah muda kok. Papa mengerti akan maunya anak muda kok..." ujar Herman sambil mencubit pipi Intan. Intan pun tertawa.
"Ya, Intan pernah ciuman dengan mereka," Ujar Intan.
"Ngga samapai lebihkan?" tanya Herman lagi.
"Maksudnya, Paa?" tanya Intan tidak mengerti.
"Making LOve.. Bersetubuh..." ujar Herman sambil mempraktekkan ibu jarinya diselipkan diantara telunjuk dan jari tengah.
"Wah kalau itu Intan belum pernah, Paa.. Tidak berani. Takut hamil..." ujar Intan. Herman tersenyum mendengarnya.
"Kenapa Papa tersenyum?" tanya intan.
"Karena kamu masih sangat polos, sayang..." kata Herman sambil mencubit pipinya Intan, lalu bangkit untuk menyiapkan segala sesuatunya karena Herman mau berangkat kerja.

Malam harinya Intan dan Yenny asyik menonton TV, sedangkan Herman sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.

"Ciuman rasanya gimana sih?" tanya Yenny ketika menyaksikan adegan ciuman di televisi.
"Ah, kamu.. Masih kecil! Tidak perlu tahu," ujar Intan sambil mengucek-ngucek rambut Yenny.
"Tidak boleh begitu, Sayang, tiba-tiba Herman mendengar dan mendatanginya.. Adikmu harus tahu tentang apapun yang dia tidak mengerti. Biar tidak salah langkah nantinya..." ujar Herman sambil menatap Intan.
"Begini, Yen..." ujar Herman.
"Ciuman itu tidak ada rasa apa-apa.. Tidak manis, pahit atau asin. Hanya saja, kalau kamu sudah besar nanti dan sudah merasakannya, yang terasa hanya perasaan nyaman dan makin sayang kepada pacar atau suami kamu..." ujar Herman lagi.
"Ah, nggak ngerti..." ujar yenny.
"Mendingan Yenny tidur saja, ah.. Sudah ngantuk..." ujar Yenny.
"Ya sudah, tidurlah sayang," ujar Herman. Yenny kemudian bangkit dan segera menuju kamar tidurnya.

Ketika menyaksikan adegan ranjang di televisi, Herman bertanya kepada Intan, "ko kelihatan serius bgitu sayang".
"Intan belum punya pacar, Paa.. Mereka hanya sekedar TTM saja," jawab Intan.
"Tapi kok kamu bisa ciuman dengan mereka?" tanya Herman lagi sambil tersenyum.
"Ya namanya juga iseng..." jawab Intan sambil tersenyum juga.
"Sudah sejauh mana kamu melakukan sesuatu dengan mereka?" tanya Herman.
"Tidak apa-apa kok, Sayang.. Bicara terbuka saja dengan papa," ujarnya Herman lagi. Intan menatap mata ayahnya sambil tersenyum.
"Ya begitulah..." kata Intan.
"Ya begitulah apa?" tanya Herman lagi.
"Ya begiutlah.. Ciuman, saling pegang, saling raba..." ujar Intan malu malu. Herman pun tersenyum.
"Hanya itu?" tanya Herman lagi.

Intan melirik ke arah kamar adiknya yang sedang tidur.
"Papa jangan bilang ke Mama ya?" ujar Intan.
Herman tersenyum sambil mengangguk. Intan lalu beringsut mendekati Herman.
"Intan pernah oral dengan beberapa teman wanita..." ujarnya sambil berbisik.
Herman tersenyum sambil mencubit pipi Intan.

"Nakal juga ya kamu!" ujar Herman sambil tersenyum.
"Rasanya bagaimana?" tanya Herman sambil berbisik.
"Sangat enak, Paa..." ujar Intan.
"Walaupun mencoba dengan sesama temen wanita, soalanya masih takut begituan ama cwo,..Tapi Intan dengar, katanya kalau punya Intan di masukkin punya cwo kata temen intan, rasanya lebih enak.. Benar tidak, paa?" tanya Intan.

Herman kembali tersenyum tapi tidak menjawab... (sambil bersorak gembira dalam hati ....wahh durian runtuh)

"Kamu mau tahu rasanya, sayang ?" tanya Herman sambil memancing. Intan mengangguk, tapi takut.
"Ngga apa ko sayang, klo mau Sini ikut papa..." ajak Herman sambil bangkit lalu pergi ke kamar belakang. Intan mengikuti dari belakang.

Sesampai di kamar belakang, Herman menarik tangan Intan agar mendekat.

"Ada apa sih, Paa?" tanya Intan.
"Karena kamu sudah dewasa, Papa anggap kamu sudah seharusnya tahu tentang hal tersebut," ujar Herman dengan nafas agak memburu menahan gejolak yang selama ini terpendam terhadap anaknya tersebut.
"Ciumlah papa sayang..." kata Herman sambil mengecup bibir Jimmy.

Intan diam karena  bingung tidak tahu harus berbuat apa. Herman terus melumat bibir anaknya itu sambil tanggannya masuk ke dalam baju intan. Lalu dengan lembut diremas dan di pilin-pilin payudaran anaknya. Karena tidak tahan merasakan rasa enak, intan dengan segera membalas ciuman Herman dengan hangat.

Sambil terus meremas payudara intan, Herman berkata, "Kamu ingin merasakan rasanya bersetubuh kan, sayang?".
"Iya, Paa..." ujar Intan dengan nafas mendesah.
"Papa juga sama, Sayang.. Papa ingin merasakan hal itu dengan kamu," ujar Herman.

Diusap, dibelai, diremas, lalu di sedot puting intan sampai tegang dan tegang. Intan terus mendesah tidak karuan, sambil merasakan rasa nikmat pada dirinya.

Intan sambil membalasnya dengan mengocok kontol Herman.
Wahh Hebat juga nih anak, batin Herman.
 Kemudian Herman merebahkan tubuh anaknya, lalu melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Intan terus membayangkan apa yg di alami saat kontol bapaknya menembus lubang vaginanya.

"Buka baju kamu dong, sayang," ujar Herman.
"Iya, Paa..." ujar Intan sambil mengangkat bahunya lalu melepas celana roknya.
Dengan Garang Herman lalu menerkam memek putri sulungnya, menjilat dan menyedot. Jilatan dan hisapannya membuat Intan bergetar tubuhnya menahan nikmat yang amat sangat.

"Mmhh.. Enakk, Paa..." desah Intan sambil menggerakan tubuhnya ngga karuan.
“Paa Intan mau pipis,...bilang Intan
“Ngga apa sayang keluarin aja, Jawab Herman
Tubuh intan menegang di ikuti siraman air madu vagina anaknya, yang meluber kemuka Herman.
Herman melepas jilatanya, sambil tersenyum menatap wajah Intan yang tengadah merasakan nikmat.
“Gimana Sayang?”, Tanya Herman
"Enak Paa..." ujar intan.
“Mau yang lebih enak lagi?”,
"Iya, Paa..." jawab intan.

Herman lalu naik ke ranjang anaknya. Lalu segera dibukanya paha lebar-lebar.. Intan langsung mendekatkan memekya ke ke kontol Herman. Lalu segera di masukkan seluruh permukaan memek intan, walaupun agak susah Herman mencoba lagi. Intan terpejam menahan geli tiba-tiba menjerit pelan, aduuhh sakit paa.
“Tahan sayang bentar lagi enak ko, Herman  coba menenangkan.
Herman mencoba menggerakkan pelan kontolnya keluar masuk, pelan-pelan di ikuti memegang payudara dan mencium bibir intan.. Mata intan terpejam, tubuhnya bergetar sambil menggoyangkan pinggulnya.

"Ohh.. Enakk.. Teruss, paa..." desah intan.

Setelah sekian menit Herman menunggangi memek putrinya, tiba-tiba tubuh putrinyanya bergetar makin keras, di tekannya kepala kontol Herman ke memeknya, lalu segera dijepit dengan pahanya.. Tak lama...

"Ohh.. Mhh.. Ohh..." desah intan panjang. Marlina orgasme.
"Ohh, enak sekali paa.. intan mau pipis lagi.

Tahan sayang papa juga sama, kita keluarin bareng ya. Jawab Herman

Tak lama.. Crott! Crott! Crott! Air mani Herman muncrat banyak di dalam memek intan. Herman dan intan akhirnya terkulai lemas..

"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Herman.
"Sangat nikmat, Paa.. Lebih nikmat daripada oral..." ujar intan sambil memeluk papanya.
"Intan sangat sayang papa," ujar intan.
"Papa juga sangat sayang kamu," ujar Marlina.

Lalu mereka berpelukan telanjang.
Hingga babak kedua dan seterusnya hingga malam panjang.
*****
Sejak saat itu mereka selalu melakukan persetubuhan setiap ada kesempatan. Hanya saja ketika Istri Herman bangun dari koma, mereka terpaksa harus bermain di luar sambil menyewa hotel, dan kadang di dalam mobil. Tapi sekarang sudah jarang setelah Intan lulus dan kuliah di Surabaya Tinggal Bersama Nenaknya.
Minggu, 01 Desember 2013

Sintaku Yang Manis

Semua ini berawal beberapa tahun yang lalu, saat aku masih kelas II SMU. Saat itu aku pergi ke kota Jakarta, mumpung lagi libur, sekalian mengunjungi saudara-saudara yang ada di sana. Disana aku nginep di tempat Oomku yang punya tiga anak, yaitu Agung, Sinta, dan Dina. Agung sudah kuliah, Sinta sebaya dengan aku (lebih tua dia tiga bulan), dan Dina masih SMP kelas II. Aku masih ingat betul, nyampe di Jakarta hari Senin sore di Stasiun Gambir, dan saat itu langsung disambut oleh Oomku sekeluarga.

"Hai Vit, gimana kabarnya? Wah, tambah gede aja lo. Mama baik?" dan beribu pertanyaan dan komentar yang harus aku tanggapi di perjalanan dari stasiun ke rumah Oomku.
Tapi, pikiranku bukannya tertuju ke pertanyaan-pertanyaan itu, tapi justru kepada Sinta sepupuku, benarkah itu Sinta? Si gadis culun itu? Bukan, sekarang Sinta sangat jauh berbeda dengan yang kutemui 2 tahun lalu. Dulu dia sangat polos, wajahnya biasa saja, bodinya juga kerempeng, tapi sekarang? Wauw, waktu benar-benar telah merubahnya, kulitnya yang putih, wajahnya yang imut-imut dibalut make up tipis, dan perubahan yang paling nampak adalah bodinya yang semlohai dibungkus kaos ketat membuat dadanya begitu menantang dengan ukuran kira-kira 36B. Gue cuman bisa menelan ludah.
"Hoi, diajak ngomong malah ngelamun."
Sialan nih si Agung, bikin napsu gue jadi ngedrop.
"Iya nih si Vito, dari tadi diajakin ngomong kaga nyambung-nyambung", timpal Sinta sambil menggelendot manja di pundak gue.
Dia memang akrab banget sama gue, dari kecil sama-sama, main bareng, mandi bareng, tapi udah lama nggak, soalnya gue pindah dari Jakarta ke kota gue sekarang waktu masih kelas IV SD, ngikut bonyok.


Aku cuman bisa senyum-senyum, nggak lama kemudian, kita nyampe, dan aku pamit mau mandi dulu. Pas gue mandi, sialan adek gue kaga mau turun-turun, ngaceng terus mikirin bodinya Sinta, buset dah, gimana ya rasanya megang toket segede gitu? Terus terang aja aku belum pernah megang toketnya cewe, apalagi ngentot, paling mentok ya ngocok sendiri. Terlebih ukuran kontol gue termasuk pas-pasan, cuman 14 cm kalo lagi ngaceng. Dengan ukuran yang cuman segitu, gue jadi minder ngedeketin cewe. Pelajaran sex gue dapetin dari nonton Blue Film.

"Vit, ngapain lo di dalem? Lama banget, gantian dong, gue juga mau mandi nih!" Sinta teriak dari luar.
Gue melongok, buka pintu dikit.
"Ngapain Sin? Kamu mau mandi juga?"
"Yoi, cepatan donk, lo mo ngikut kaga? Gue mo nyusul bokap neh."
"Lho, emangnya pada kemana?"
"Pergi semua ke Oom Yong, ntar kita nyusul aja".
"Hmm, pada pergi semua, kesempatan nih", pikir gue.
"Ya udah, kita mandi bareng-bareng aja yuk".
"Gile lo Vit, mandi bareng?"
"Iya, kita kan udah biasa mandi bareng".
"Itu kan dulu! Sekarang ya udah nggak pantes kalo kita mandi bareng"
"Ahh, sekarang atau dulu kan sama aja."
Lalu gue tarik dia masuk ke kamar mandi, nggak sengaja tangannya nyenggol kontol gue yang masih ngaceng. Muka Sinta langsung merah padam, malu kali.
"Napa Sin? Malu? Ga usah malu, kan kita udah biasa mandi bareng, sini aku bukain bajunya"
"Vit! Lo gila ya? Udah ah, gue males main-mainnya. Kita kan udah pada gede Vit."
"Lho, apa salahnya sih? Mandi bareng kan nggak pa pa?" Sinta diem aja.
"Udah, sini aku bukain bajunya"
Gue pura-pura cuek, berlagak bener-bener mau mandiin beneran, padahal jantung gue udah mau copot rasanya. Gile nih anak, bodinya bagus banget, ini toket beneran bukan sih.

"Gue sabunin ya?"
Sinta diem aja saat gue siramin air dari shower, lalu gue sabunin seluruh tubuhnya, lalu pas tangan gue di toketnya, sengaja gue lama-lamain, ouuhh, nikmat dan benar benar kenceng, trus gue mainin pentilnya, gue pilin-pilin, diputer, dielus-elus, Sinta diem, tapi dari nafasnya yang memburu gue tau kalo dia udah mulai terangsang.
"Aahh, Vit, jangan digituin dong, geli."
"Tapi enak kan? Udah, diem aja, nggak usah ribut".
Gue terus aja cemek-cemek itu toket, dan Sinta mulai mendesah nggak keruan,
"Mmmhh.. mmhh.. aduuhh.. Geli ah, Vit. Udah dong"
"Napa sih Sin, lo bawel amat? Ini lagi dibersihin, lagi disabunin, diem aja napa?"
Gue salut ama diri gue, bisa bersikap sok cuek seperti gitu, padahal Sinta udah mendesah nggak keruan.
"Aaahh, terus Vit, teruuss, aahh.. oohh, god, enak banget."
"Ih elo jangan mendesah seperti gitu dong, gue jadi pengen juga nih, sini, gue tuntun elo ke jalan yang benar"

Tangan Sinta gue tarik, terus gue suruh dia pegang-pegang kontol gue, pertamanya memang masih pegangannya masih agak kaku, tapi lama-kelamaan jadi makin enak, terlebih buat gue, yang belum pernah tau kenikmatan duniawi. Dan Sinta pun makin lama makin lihai dalam memainkan kontol gue, gue merem melek, sambil terus meremas-remas toket Sinta, dan desahan- desahan yang keluar dari mulut kami sudah tak beraturan.
"Teruus Siin, oohh, gile beneerr oohh.., aahh.." terus gue kelamotin pentil Sinta yang berwarna pink tua (bukan pink, tapi juga bukan coklat.
"Sluurrpp.., sluurrpp.., crruup.."
"Aahh,.. teruuss Viit, adduuhh, gue nggak tahann, enaakk bangeet.. oohh.. oohh.. auuhh.."

Pelan-pelan gue deketin kontol gue ke bagian bawah perutnya, terus gue gesek kontol gue di bibir memeknya. Sinta melenguh, "Oouuhh,.. ouhh.. oohh.. ahh"
"Auuhh.. auuhh.. Vit.. gue jadi pengen pipis nih.. auuhh.. oohh"
Gue gesekin kontol gue lebih cepat, Sinta makin beringas, badannya meronta nggak beraturan.
"Ahh.. uuhh.. Vit.. Gue.. gue.. pipis.. ahh.. ahh.."
Sinta menggelinjang, tangannya mencengkeram punggung gue.
"Sin, gue masukin ya, sayang.."
"Jangan, Vit, jangan"
"Ayo dong Sin.., gue nggak tahan nih, gue kepengen tau rasanya ngentot"
"Jangan Vit! Gue.., gue.. masih.. Please, Vit, jangan.."
"Masa elo nggak pengen tau enaknya ngentot, Sin?"
"Iya, tapi please Vit, jangan, gue belon pernah digituin, gue masih.. masih.. virgin. please.. jangan.."
"Gue jadi nggak tega ngeliatin mukanya yang memelas"
"OK, nggak pa pa deh, tapi elo mau kan bantu gue? Tolong pegang-pegang kontol gue dong, nanggung nih.. cuman pegang aja, kocokin sampe gue pipis juga. Mau ya? Please."
Sinta mengangguk, lalu mulai memegang-megang kontol gue lagi, lalu mulai mengocoknya dengan gerakan maju mundur, ahh, enak banget..
"Sin, jilatin donk, diemut juga boleh.."

Pada mulanya Sinta menolak, tapi berkat jurus rayuan mautku, akhirnya dia mau meniup 'seruling'ku.
"sluurrpp.., sluurrpp.., crruup.."
"Aoohh, teruuss, Siinn.. oohh.. teruuss.. jilatin, Sin.. oohh."
Mendengar desahanku, Sinta makin bersemangat, jilatannya makin ganas, dari pangkal sampai ujung kontolku dijilatinya sampai tak bersisa, lalu dikulum, diemut maju mundur, aku sampai blingsatan dibuatnya.
Sampai pada akhirnya, "Ahh.., Siinn.., teruuss, jangan dilepaass.. sedoot yang kuaatt.."
Croott.., croot.., cruut.. cruutt.. cruutt.. pejuku menyemprot keluar sebagian di mulutnya, dan sebagian lagi menyemprot di dada dan mukanya. Ooohh, benar-benar nikmat.., inikah surga dunia? Belum tentu, karena gue belum tahu, ada yang lebih menyenangkan dari ini.

Setelah kejadian di kamar mandi itu, gue dan Sinta berangkat ke rumah Oom Yong naik taksi, dan setelah berbasa-basi sebentar, ngobrol-ngobrol dengan Oom Yong, kami pulang bersama-sama ortunya Sinta.
Agung memecahkan keheningan di mobil, "Vit, nanti kamu tidur di kamarku aja, kita ngobrol sampe pagi."
Belum sempat aku ngejawab, Sinta udah menimpali, "Kasian dong, udah Capek di kereta, masih mau diajak ngobrol, biar di kamar gue aja, ntar gue tidur sama Dina. Lagian kamar elo jorok, bau. Udah Vit, elo di kamar gue aja. ntar gue gantiin sepreinya."


Malam itu, kira-kira jam sepuluh lebih dikit, gue belum bisa tidur, gue masih kepikiran kejadian di kamar mandi tadi sore, tau-tau pintu kamar diketok, gue buka dikit, Sinta di depan pintu sambil cengar-cengir.
"Napa Sin?"
"Ssstt, nggak pa pa, gue cuma pengen ngobrol bentar, mau kan?"
Sinta masuk, diam-diam aku nelen ludah lagi, gile bener, pakaiannya, baby doll dari bahan tipis, membuat apa yang ada di dalamnya jadi nyaris terlihat.
"Dina sudah tidur?" aku membuka pembicaraan.
"Sudah, eh, omong-omong, tadi sore bener-bener enak loh Vit."
Deg. Sinta langsung to the point, jantung gue mulai dag Dig dug lagi.
"Sorry Sin, aku tadi nggak niat gitu, tapi kebawa napsu aja, sorry ya Sin, Elo mau kan maapin gue?"
Di luar dugaan, Sinta malah ketawa pelan, "Nggak pa pa kok Vit, aku justru mau ngomong makasih, soalnya aku belum pernah ngerasain seenak itu. Dari dulu gue pengen ngerasain dicumbu sama cowok, tapi gue kan nggak boleh pacaran sama Papa, jadinya ya nggak kesampaian. Tadi aku udah ngerasain, rasanya benar-benar enak banget. Tapi jangan diulangi lagi ya, gue takut ntar kebablasan."

Kami ngobrol nggak lama, dan nggak terasa gue ketiduran. Ngga tau berapa lama kemudian, gue terbangun, dan sempet kaget juga ternyata Sinta tidur di sebelah gue, dengan posisi miring, gue cuek aja, dan ngeloyor keluar mau ambil minum, pas gue balik ke kamar, posisi Sinta udah berubah menjadi telentang, dan mau tak mau gue melihat pemandangan yang mengasyikkan itu, dua buah gunung kembar yang menjulang, dan kakinya sedikit menekuk ke samping, sehingga CD pink-nya yang bergambar bunga-bunga terlihat jelas.

Batang kejantananku mulai mengeras, dan darahku rasanya sudah naik ke ubun-ubun, sialan, ni anak bener-bener bikin napsu, serta merta gue deketin dengan hati-hati dan kuusahakan supaya nggak ngagetin dia, pelan pelan gue buka bajunya, kebetulan baju tidurnya adalah baby doll tipis dengan kancing di depan, sehingga usaha gue bisa berhasil dengan mudahnya. Tangan gue mulai bergerilya, dan gue raba toketnya yang sekel itu lalu gue remes pelan2, tapi gue nggak puas sampe disitu, BHnya gue tarik ke atas pelan-pelan sampe toketnya keluar dari BH, terus gue emut pentilnya dan gue kulum-kulum pelan, Sinta menggeliat sebentar, tapi nggak terbangun, setelah gue rasa aman, baru gue lanjutin bergerilya, CDnya gue tarik ke bawah, dan terlihat rerimbunan jembut yang nggak begitu lebat. Sinta menggeliat lagi, dan gue berhenti.

Setelah beberapa menit, gue mulai lagi, gue buka celana gue biar si kecil nggak tertekan di dalam CD gue, gue lebarin kakinya Sinta, terus gue jilatin lipetan memeknya, hmm, baunya benar-benar merangsang, gue buka lipetan memeknya itu, dan terlihat merah merekah, lalu gue jilatin lagi, dan terasa ada daging sebesar kacang, inikah yang disebut clitoris? Ah, peduli amat, gue jilatin terus memeknya Sinta, dan gue fokus di clitorisnya sampe basah dan Sinta mulai gerak-gerak lagi, wah, celaka kalo sampe bangun, bisa berabe nih, tapi udah kepalang tanggung, gue kaga peduli lagi, gue udah nggak tahan, kakinya Sinta gue angkat, terus pelan-pelan gue masukin kepala kontol gue ke bibir memek Sinta, Sinta terbangun dan kaget, langsung gue sodokin kontol gue, bleess.
"Aahh, adduuhh.." pekik Sinta.
Langsung gue tutupin mulutnya pake tangan.
"Aahh,.. hepp.. ssh.."
Gue mulai gerakin kontol gue maju mundur, ouhh.. sempit banget, dan Sinta mengerang-erang kesakitan, tapi setelah berapa lama, dia mulai tenang, trus gue lepasin tangan gue dari mulutnya.
Gue bisikin, "Sstt jangan teriak Sin, ntar ada yang denger. Kamu nikmatin aja, OK?" Sinta cuma mengangguk lemah.

Langsung aku goyang maju mundur, kiri kanan sekuat tenaga.
Sinta mendesah, "Emmpphh.. emmhh.. emhh.. akkhh.. ahh.. oouuhh.."
"Masih sakit Sin?"
"Ngga.., sekarang malah jadi enak.., terus Vit, jangan berhenti.."
"Goyangin pantatnya Sin"
Sinta menurut dan menggoyangkan pantatnya.
"Akkhh.. ahh.. ahh.. ouuhh.. ouuhh.. terruuss.. Viitt teruuss.. terruuss.. oouuhh.. enak banggeet.."
Gue makin bernapsu denger desahan Sinta, gue tarik kontol gue sampai sebatas kepala zakar, trus gue sodok sekenceng-kencengnya, gue sodok-sodok terus, Sinta semakin blingsatan dan memek Sinta makin terasa becek dan hangat di kontol gue. Crepp.. crepp.. crepp.. crepp.. gesekan kontol gue dan memek Sinta yang becek menimbulkan bunyi-bunyi yang merangsang.

"Oohh.. ahh.. auuhh.. ahh.."
Sinta mendesah nggak keruan dan sepertinya dia sangat menikmati permainan ini, aku terus aja nyodok, makin lama makin cepat.
"Auuhh.. oohh.., Viitt,.. aku.. aku.. nggak tahaann.., enaakk.. terruuss.. dikiitt lagii.. aahh.. truuss goyanngg.. aahh, gue.. pipiiss.."
Serr.. serr.. serr.., gue liat Sinta udah nyampe, kontol gue seperti disiram air hangat, gue goyang lebih cepat.
"Tahaann.. bentaarr.. Sin.., akuu.. jugaa.. mauu.. keluuaarr.."
Dan akhirnya cruutt.. cruutt.. cruutt.. gue semprotin peju gue di dalam memek Sinta, sambil gue goyangin terus kontol gue. Akkhh, ini baru surga dunia. Nikmat.

Gue tiduran di sebelah Sinta yang tersenyum lemas, senyum kepuasan, menikmati indahnya dunia, beberapa saat kemudian Sinta mencium bibir gue, trus gue balas pagut bibirnya dan kami berciuman cukup lama, seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Pada saat mau ke kamar mandi untuk ngebersihin badan, Sinta memekik kaget melihat noda darah di seprei yang baru digantinya tadi sore. Wajahnya menunjukkan setitik penyesalan, gue peluk dia, sambil mengusap-usap kepalanya.

Jujur gue katakan, gue juga menyesal, telah merenggut keperawanan seorang gadis, terlebih itu saudara sepupu gue sendiri. Tapi kini, setelah lewat beberapa tahun, hal itu masih sering kami lakukan, saat Sinta datang ke kota gue atau gue ke Jakarta, kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu dan memadu kasih layaknya sepasang kekasih, padahal saat ini gue sudah punya istri, dan seorang anak berumur enam bulan, dan Sinta sudah memiliki pacar, dan berencana untuk menikah dalam waktu dekat. Baik istri saya maupun pacar Sinta nggak menaruh curiga dengan kami, dan menganggap hubungan kami adalah sebatas saudara dekat/akrab semata.

Anak Tiriku Habis

Sambungan dari bagian 02

Aku tersentak karena teriakannya, Mia berteriak sakit, tapi aku belum memasukkan batang kemaluanku sedikit pun, baru hanya menyentuh bagian luarnya. Akhirnya aku berpikir bahwa kalau kupaksakan untuk menusuk semua batang zakarku yang panjang 17 cm, dan berdia meter 5 cm ini, akan berakibat fatal, yakni Mia bisa jadi tidak ikut ke pesta atau datang ke pesta dengan jalan terjingkat-jingkat. Aku putuskan bermain dengan menggesekkan batangku di bibir vagina yang tembam itu. Aku berhenti sejenak, dan bertanya pada Mia.

"Apa kamu merasakan nikmat Nak..?" tanyaku lembut sambil mengelus keningnya.
"Ia Pa.., tapi ada sakitnya.." jawab Mia lugu.
"Kamu pernah seperti ini Sayang..?" tanyaku lagi.
"Belum Pa.., Ciuman aja baru sama Papa tadi ini.." katanya lugu.
"Benar kamu belum pernah ciuman..?"
"Benar Pa.. sumpah.."

Kalau soal di luar ciuman aku percaya dia belum pernah, karena dari tadi sejak aku mulai mengelus buah dadanya sampai menciumi dan bahkan menekan zakarku ke vaginannya, dia kaku tanpa mengibangi, hanya pinggulnya yang bergerak, itu pun dikarenakan naluri kewanitaannya.


Percakapan aku sambung lagi sambil tetap berpelukan tanpa busana dengan posisi aku masih di atas, dan batang besarku tetap kutempelkankan pada vagina Mia. Memang kuraskan mulai agak mengendur.

"Kamu pasti belum puas..?" kataku.
"Maksud Papa puas itu seperti apa..?" tanyanya lugu.
"Puas itu ialah mencapai kelimaks, yang tandanya Mia merasakan seolah-olah kayak pipis, tapi tidak pipis, dan setelah itu badan Mia terasa lemas." jelasku.
"Ah.., Mia enggak ngerti ah Pa.." dia kelihatan binggung.
"Tapi Mia maukan mencoba dan merasakannya..?" tanyaku merayu.
"Emm.., mau sih Pa.., tapi tidak pakai sakit Pa.." jawabnya manja.
"Boleh deh.." jawabku singkat.
"Janji ya Pa..!" pintanya manja.
"Janji.." kataku.
"Sekarang Mia peluk Papa dan cium bibir Papa sperti tadi.."

Tanpa malu-malu lagi Mia memeluk dan menciumku dari arah bawah. Aku pun segera menyambut ciumannya dengan menjulurkan lidahku masuk ke dalam mulutnya, Mia pun langsung bermain dengan lidahnya. Sedangkan bagian bawah mulai kutempelkan, dan aku gerakkan ke kiri dan ke kanan. Naik dan turun, sehingga sedikit demi sedikit kemaluanku mulai membesar lagi. Dan sekarang sudah mengeras seperti tadi, tetap kutempelkan di vagina Mia, naik dan turun kugesekkan pada bibir tumpukan daging yang tembab itu.

Ciuman bibir kami berhenti, karena Mia sekarang lebih banyak bersuara.
"Pa.., ahk, Pa..,"
"Enak Sayang..?"
"Ia Pa."
"Sakit Sayang..?""Tidak.. ahk..! Au..,"
"Sakit Sayang..?"
"Ahk.., i.. au.. ahkk..!"
Kuteruskan gerakanku naik dan turun sambil menekan batang kemaluanku yang sudah mengeras. Dan pelukan Mia semakin erat kurasakan.

"Apa rasanya Sayang.., enak Nak..?" tanyaku manja.
"Enggak tau Pa.., Mia rasanya mau pipis Pa.. ahk..!"
"Pa.. a.., Mia mau pipis Pa..,"
"Ah.. uhk.., ahhkk.. ahhkk.., Papa.., Mia.. Pa.. Mia mau.. Pa.., Mau pi.."
Kuhentikan gerakanku dan kurenggangkan zakarku dari vaginanya. Dan aku merosot ke bawah menuju selangkangan Mia untuk menciumi vagina yang merah jambu ini, sambil meraih dua remote untuk menyalakan TV dan VCD, yang sudah kupersiapkan, bila misi urut mengurut gagal, maka akan kualihkan dengan misi nonton VCD Porno. Tapi VCD ini akan bermanfaat untuk Mia berlajar saat aku memintanya nanti mengulum batang ajaib ini.

"Sekarang Mia pipis sepuasnya sambil Papa cium dan Mia juga sambil nonton ya..!"
"Ia Pa.."
Aku mulai mencium bagian yang sangat sensitive, Mia mengerang dan bergerak.
"Au.., Ahhk.., ahhkk.., Enak Pa.., he.. ahhk.., Pa terus yang itu Pa.. Enak yang di situ ahhkk.., Pa.. Mia sudah.. ahhkk.. aakk..
"Papa.., Mia pipis ya.., ahhkk..,"
Aku mengangguk sambil mempercepat lumatan lidahku di vaginanya, dan tidak lupa meremas-remas buah dada yang sekal itu.

"Pa.., Mia.., Pa.. pi.. aa.. hh.. akk ahhkk.., Mia ii.. Papa udah Pa.. ahhkk, Mia udah pipis Pa.., uhh..!"Benar dia sudah dapat dan mencapai orgasmenya, aku merasakan hangat di bibirku, dan badan Mia sekarang melemas sambil melipat kedua kakinya. Aku langsung naik ke atas dan berbaring di samping sisi kanan Mia. Aku cium pipinya dan kupeluk badannya yang sedang tidur telentang.Kuelus lembut buah dadanya, dia diam dan telentang tidak merasakan malu seperti tadi. Sementara batang kemaluanku masih mengeras.

TV masih menyala dengan gambar adengan porno seorang wanita bule sedang mengulum batang kemaluan pria bule. Kulihat Mia memperhatikan adengan yang ada di TV, kubimbing tangan kanan Mia menyentuh zakarku yang mengeras. Dia tidak menolak, bahkan sekarang menggenggamnya dengan keras, dan sebentar-sebentar digerakkan, aku sadar dia belum mengerti apa maksudku, sehingga kubiarkan berjalan apa adanya.

Setelah beberapa menit saling diam, sementara Mia merasakan nikmatnya pipis yang dia maksud dengan sambil menonton TV, aku juga terus memandangi tubuh yang indah ini, aku pun berkata memecahkan kesunyian.
"Sekarang kita mandi Sayang.., nanti kita terlambat ke rumah Oma.."
Dia kaget dan langsung melihat dan memelukku, dan berkata, "Terima kasih Pa.."
Aku tersenyum dan langsung menggendong tubuh mungil ini ke kamar mandi.

"Kita mandi bareng ya.., biar rapihnya cepat.." kupeluk Mia dalam gendonganku sambil kucium bibirnya, dia membalas dengan mesra.
"Lagi pula Mia kan tugasnnya belum selesai.." sambutku lagi.
"Tugas apa Pa..?" Mia bertanya sambil mengerutkan kening, dan memang dia benar-benar tidak tahu.

Sesampainya di kamar mandi, kuturunkan Mia dari gendonganku dan masih berhadapan denganku. Kukulum lagi bibirnya, dia berusaha melepas dan bertanya.
"Tugas apa Pa..?" tanyanya penasaran.
"Papa kan belum pipis seperti Mia, jadi tugas Mia bikin pipis Papa.."

Kubungkukkan badanku untuk mencium bibirnya lagi, belum puas rasanya aku menciumi semua badannya, untuk itu aku ajak dia mandi bareng.
Dia lepaskan lagi ciumanku dan bertanya, "Caranya bagaimana Pa.., apa seperti yang di film tadi..?" tanyanya lugu.
Aku tidak menjawab dengan jelas, sambil berkata aku langsung mencium bibir Mia lagi.

"Pokoknya Mia pasti bisa bikin Papa pipis.., Mia ikuti aja apa yang Papa suruh..!" tegasku.
"Tapi tidak sakit kan Pa..?" tanyanya.
"Ya.., tidak Sayang.." jawabku.

Dan langsung saja kuciumi bibirnya, sangat kunikmati, kepeluk dan kujilati lehernya sambil berdiri dan berpelukan. Kuangkat badannya dan kududukkan Mia ke atas Meja westafel yang berada di belakangnya. Kucium dengan leluasa buah dadanya di bawah sinar lampu kamar mandi yang terang menderang. Puas dengan bermain di buah dadanya dan memperhatikan dengan jelas, ciumanku pindah ke bawah perlahan, dan menuju ke arah sela-sela paha.

Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar tumpukan daging nikmat itu kujilati dengan mesra, sesekali menyentuh bagian bibir vagina Mia, sengaja kubasahi bulunya agar tidak menutupi bagian yang sangat indah ini. Kuangkat kedua kaki Mia ke atas meja westafel yang sedang dia duduki, sehingga posisinya duduk mengangkang dengan kaki menekuk. Sekarang terlihat jelas bagian dalam vagina yang muda ini, berwarna merah, cantik, masih asli dan belum melar. Kujurkan lidahku menjilati sampai ke bagian dalam, kulihat Mia menikmatinya.

"Ahhkk Pa.., udah Pa.., Mia kan tadi udah dapat pipisnya Pa.."
"Ia sayang, Papa hanya cium aja, Papa tidak bikin Mia pipis lagi.."
Kuhentikan ciumanku pada vagina Mia, karena kurasakan sudah cukup puas, dan aku pun merasa sudah tidak kuat lagi menahan desakan air maniku yang sedari tadi sudah mau keluar. Aku angkat turun Mia dan kucium bibirnya, dia membalas dengan mesra pula. Kupeluk rapat badannya dan sambil berputar, dimana aku yang membelakangi westafel. Kubimbing kepalanya ke bawah dan kudekatkan batang kemaluanku ke bibirnya.

"Mia.., Sekarang Mia bikin pipis Papa ya Nak..?"
Dia duduk berlutut bingung sambil memandangiku ke atas, aku tahu apa artinya itu.
"Mia ciumi itu seperti yang Mia lihat di film tadi."
"Mia isap-isap seperti Mia minum es krim.."

Tanpa berkomentar Mia pun bereaksi, awalnya memang aneh, hanya pada bagian ujung batang kemaluanku saja yang di kecup. Kubiarkan apa saja yang dia lakukan. Perlahan kurasakan dia mulai memegangi batang kemaluanku dengan kedua tangannya. Bibirnya pun mulai terbuka lebar, dan pelan masih gerakannya, tapi sudah mulai kurasakan setengah dari batangku masuk ke mulutnya.

Tidak begitu lama aku sudah merasakan kemahiran Mia seperti yang kurasakan kalau Mamanya bertugas seperti ini. Kupeganggi rambunya dan kepalanya lembut sambil menggerakkan maju mundur.

"Iya.., Sayang.., Papa hampir pipis Nak.."
"Terus..! Yang kencang Sayang.. Ah.. enaknya Nak.. Mia.., aduh Sayang.., enak Nak..!"
"Pintar kamu manja.."
Terus kugerakkan kepalanya maju mundur.
"Sayang terus Sayang.., jangan berhenti..! Papa hampir.., ahhkk."
"Kalau Papa mau pipis Mia langsung berdiri ke samping Papa ya.. ahhmm..!""Terus Nakk, auu ya.., Terus cium Nak..! Sambil dihisap Nak.."
"Ya, gitu.. Ya.. Ahh.., kk..,"
"Sudah Mi.., kesini..!"

Kutarik Mia ke samping dan kupegang tangan kanannya tetap memegang batang yang keras ini dan ajarkan untuk mengocok, ternyata dia cepat mahir, sehingga kulepas tangganku, dan dia terus menocok barangku. Kupeluk dia dari arah samping yang memang sudah berdiri di sisi kananku. Badannya agak sedikit membungkuk, karena tangan kanannya sedang mengocok barangku.
"Terus Sayang, yang cepat lagi, ahhkk, diremas lagi Nak..!"
"Ya.. Papa dapat sekarang sayang, terus Nak.., jangan berhenti sampai Papa berhenti pipisnya, ahhkk."

Lunglai sudah badanku lemas rasanya, kupeluk Mia dengan mesra, dan sambil kuperhatikan semburan air maniku yang mencapai satu meter itu. Pelan zakarku mengecil. Selanjunya kami pun mandi bersama saling menggosok badan tanpa ada rasa malu lagi. Mia pun tidak merasakan keseleonya yang tadi dia derita.

Selesai mandi kami pun bersalin di kamar masing-masing. Selesai berdandan aku dan Mia berangkat menuju ke rumah Omanya. Dalam perjalanan aku berpesan bahwa kejadian tadi jangan diceritakan pada siapa pun, dan kalau tidak Mia akan tidak pernah dapat pipis yang enak lagi ancamku. Dia tersenyum seolah-olah setuju.

Di pesta suasana kami berdua berjalan biasa, begitu juga sehari-hari, karena memang Mia sehari-harinya manja denganku.

Anak Tiriku 2

Sambungan dari bagian 01

Gerakanku berpindah ke leher belakangnya dengan kedua telapak tangan kuurut dari atas menuju ke dua pundak atasnya dengan lembut. Gerakan ini berlangsung 5 menit. Tanpa ada protes dari Mia, suasana hening masing-masing dari kami menikmati apa yang terjadi, yang jelas aku terus mengatur siasat dengan jitu, tapi yang kutahu Mia diam sambil memejamkan mata. Pijitan lembutku sekarang kupindahkan ke bagian punggung belakang Mia. Perlahan kubuka pengait tali BH-nya yang melintang di punggung. Tidak ada reaksi menolak, misi berjalan dengan sempurna.


Kutelusuri kedua telapak tangan ini dari atas sampai ke panggal pinggangnya berulang kali, terkadang dari atas ke bawah. Sedikit demi sedikit posisi telapak tangan kurubah seperti seolah-olah aku sedang memegang sebuah benda bulat dengan kedua jempol tanganku berada di punggungnya, dan keempat jari kanan dan kiriku berada di samping tulang rusuk Mia. Sesekali kusentuh bagian samping buah dadanya secara bergantian antara yang kiri dan yang kanan, terasa masih sangat kencang dan mumbul. Posisi dudukku sekarang sudah agak merendah, tidak lagi tegak seperti tadi. Kuberanikan diri sekarang menyentuh hampir seluruh bagian samping buah dada Mia dengan pelan dan lembut, tidak ada sanggahan, Mia semakin menikmati.

Suasana remang dan hening yang terdengar hanya suara motor fan AC yang sejuk menambah kenikmatan Mia. Kalau diperhatikan oleh yang professional, kegiatan sekarang bukanlah kegiatan mengurut yang keseleo, tapi kegiatan mengelus sebagaimana yang kujanjikan pada Mia tadi. Kegiatan telapak tanganku sekarang sudah mulai berani menyentuh semua bagian samping buah dada Mia yang memang bagian depannya masih tertutup oleh BH yang baru telepas pengait bagian belakang, sedangkan kedua tali yang di pundak masih menempel.

Perlahan kunaikkan keempat ujung jariku ke bagian atas buah dada yang ranum itu, kedua tangganku masuk di antara kedua tangan Mia, dan jari-jariku, kiri dan kanan tidak termasuk jempol, masuk menelusuri bawah tali BH. Mia diam seribu bahasa, tanpa berkomentar dan bersuara, namun satu reaksi yang menggembirakanku yang membuktikan misiku berjalan mulus ialah, posisi duduk Mia tidak bersila lagi, perlahan digerakkan kakinya lurus ke depan dan saling bertindih, itu pertanda Mia sudah mulai terangsang.

Dengan posisi tadi tentu saja ketahanan tubuhnya tidak ada, sehingga secara tidak sadar Mia telah bersandar di dadaku. Untung saja posisiku masih berlutut, sehingga si batang ganas yang sudah mengamuk ini tidak menyentuh punggung Mia yang sedari tadi tidak berbusana. Kepala Mia sekarang bersandar di dada atasku, mata terpejam, bibirnya yang merah tertutup rapat, kedua tanggannya lunglai di samping. Entah apa yang sedang dipikirkannya, apakah menikmati permainan jariku di sekeliling buah dadanya atau tertidur karena kelelahan bertanding basket tadi. Aku tidak perduli semua itu.

Sementara Mia bersandar di dadaku, jariku terus bermain di sekeliling buah dada Mia, sambil kuperhatikan gundukan kemaluan Mia yang masih tertutup celana karet ketat, dan kuberpikir bahwa sebentar lagi aku akan menjilatinya. Bim Sala Bim, kuberanikan sekarang kedua telapak tanganku menelusuri ke dalam penutup BH Mia. Perlahan ujung jariku menyentuh samping puting susu Mia, dan tidak ada masalah, semua berjalan mulus. Dengan lembut kujalankan telapak tanganku menutupi kedua buah dada Mia dari belakang, buah dadanya yang kiri kututupi dengan telapak tanganku yang kiri, dan yang kanan dengan telapak tanganku yang kanan, posisiku seolah-olah sedang memeluk dari belakang.

Jantungku semakin berdebar, hanya baru dapat kubayangkan bahwa besarnya buah dada Mia sebesar telapak tanganku, keras dan menempel tegak karena memang masih tertutup BH-nya. Tidak ada penolakan , dan aku semakin bergairah, perlahan kutempelkan pipiku di pipinya, lembut kucium pipinya, ujung atas daun telinganya, dan jari telunjukku sekarang sudah mulai bermain dengan kedua puting susu Mia.

Kulihat kakinya makin mengejang, sehingga dapat kupastikan dia tidak tertidur tapi sedang menikmati permainanku. Kulihat juga sekali-sekali Mia menggigit bibir bawahnya nan merah itu. Ingin rasanya aku melumatnya. Tapi nantilah ada masanya. Perlahan tangan kiriku keluar dari sarung BH Mia yang sedari tadi asyik bermain dengan puting susu kiri Mia, sementara jari kiriku masih tetap asyik dengan puting kanan Mia. Tugas tangan kiriku sekarang ialah melorotkan tali BH yang sebelah kiri, dan sekarang telah jatuh ke bawah, tugasnya selesai dan kembali lagi dengan permainan puting susu tadi, tapi tidak lagi masuk melalui bawah ketek Mia, datangnya sekarang dari arah atas.

Bergantian tugas dengan tangan kiri, si tangan kananku juga melakukan tugas yang sama dan kembali lagi dengan kegiatan semula, yaitu bermain dengan puting susu Mia persis seperti yang kiri, yakni dari atas. Lebih leluasa lagi aku bereaksi, dengan lembut kuturunkan semua penutup BH Mia dari atas ke bawah, seolah-olah takut Mia terbangun. Dan setelah BH Mia terlepas dari posisinya, terlihat jelas buah dada yang masih muda, ranum, keras dan menonjol ke depan dengan puting susu yang asyik kumainkan tadi, rupanya kecil berwarna merah dan sangat menggairahkan.

Kuelus-elus lembut sambil kucium leher Mia, dan dia hanya bersuara, "Ahk.., ahk.." sambil mengencangkan lipatan kakinya. Kupindahkan kedua telapak tanganku ke bagian belakang pundak Mia dan kutahan serta kubimbing pelan-pelan Mia untuk berbaring telentang. Kuperhatikan Mia masih terpejam dengan posisi telentang saat ini. Sementara posisiku masih di belakangnya, atau berada di ujung kepalanya.

Indah sekali tubuh ini gumamku dalam hati, dada mumbul, pinggang kecil dan vagina membukit. Tanganku masih bermain di sekeliling buah dada Mia. Kubungkukkan badanku dengan mendekati wajahku ke buah dada Mia, sehingga posisi perutku tepat berada di atas wajah Mia yang sedang memejamkan mata tadi, akau masih mengenakan kimono. Kutempelkan wajah ke buah dada Mia yang kiri dan kanan bergantian. Dan kukecup di antara kedua belah dada Mia, lembut kugerakkan ke arah puting kiri, lidahku menjulur dan berputar-putar, bergantian dengan puting sebelah kanan.

Mia mulai bersuara lagi seperti tadi mengerang nikmat, tapi hanya sekali. Tidak kusangka Mia benar-benar menikmati. Entah obsesi apa yang membuat dia begini, yang pasti aku berhasil menikmati tubuh yang sudah lama kuangan-angankan. Ciuman demi ciuman kulakukan terus di kedua buah dada Mia, rasanya tidak puas-puasnya. Batang kemaluanku sudah menonjol keluar di antara komonoku, keras dan besar, karena posisiku di atas Mia dengan berlawanan arah maka tidak terlihat oleh Mia batang yang sedari tadi mengintip keluar.

Sambil tetap menciumi dada yang mumbul itu, tanganku mulai meluncur ke bagian bawah tubuh Mia, lembut kutempelkan di atas gundukan vagina yang sedang dijepit kedua paha yang berlipat sedari tadi. Sedikit demi sedikit kumiringkan telapak tanganku memasuki jepitan paha Mia. Dia sedikit berontak, tapi diam lagi, ahk.., mungkin kaget kurasa. Terasa jepitan pahanya mulai mengendor, dan perlahan kaki Mia mulai merenggang, dan dengan bantuan kedua tanganku, kulebarkan belahan kakinya.

Kini jari-jariku leluasa bermain di atas gundukan yang masih terbalut celana karet ketat ini. Jari tengah kanan kugosok naik turun di antara belahan vagina Mia. Suaranya sekarang mulai banyak terdengar, sudah tentu suara mengerang, nafasnya juga sudah mulai tidak beraturan, ini dapat kudengar dari hembusan udara yang keluar dari hidungnya menerpa daguku.

Tanganku kutarik ke atas perut Mia, perlahan kedua tanganku masuk ke dalam celananya. Dan sekarang sudah kurasakan bulu-bulu lembut yang tumbuh di atas gundukan tadi. Kuteruskan gerakan tanganku, tapi tidak langsung menuju vagina Mia. Kuarahkan sedikit ke samping di antara kedua pangkal pahanya sambil sedikit-sedikit menyentuh bibir vagina yang masih keras itu. Kupindahkan telapak tanganku menutupi vaginanya, dan kutarik ke atas sedikit, sehingga jari tengah tanganku berada pas di belahan vagina Mia.
Dia tersentak dan berkata, "Pa..,"
Selanjutnya diam, aku terus bermain dengan jariku sambil mencium buah dadanya.


Kesabaranku hilang. Kukeluarkan tanganku dari celana Mia, dan dengan lembut kuturunkan celana berikut CD Mia sekaligus ke bawah, namun baru sampai di posisi dengkul Mia berontak dan menekuk kakinya seraya berkata, "Papa.., Jangan Pa.., Sudah Pa..," pintanya merintih.
Aku tidak menjawab, tanganku masih memegang celana dan CD-nya, tapi gerakanku berhenti, tidak memaksa untuk melepaskan celananya.

Aku tidak kehabisan akal, dengan cepat kupindahkan ciumanku yang dari tadi di buah dada montok dan keras itu menuju ke sela-sela paha Mia. Dengan sangat terlatih lidahku sudah menyentuh klistoris Mia. Dan dia merintih lagi dengan memanggilku.
"Pa.., Mia..," suaranya terhenti entah kenapa, yang pasti merasa nikmat dengan permainan lidahku yang sudah pakar ini, terbukti kakinya yang sedari tadi ditekuk sekarang sudah lurus lagi.
Sambil bermain dengan lidah di bibir vagina Mia, kedua tanganku meneruskan melepas celana dan CD Mia, terlepas sudah.

Kusadari sekarang apa penyebab sapaan Mia barusan tadi terhenti, rupanya kemaluanku sedang menonjol berdiri tepat di atas wajah Mia, yang posisinya telentang di bawahku. Posisi kami sebagaiman yang sering disebut orang dengan posisi 69. Kulihat Mia melototi kejantananku. Aku terus bermain dengan vagina Mia, vaginanya sudah basah dan wangi, dan asin rasanya. Kujilati sepuas-puasnya, dan kuraih tangan kanan Mia, kubimbing menuju ke batang kemaluanku, kutempelkan telapak tangannya, kutuntun untuk memegang, dia menurut saja, tapi hanya memegang dan tidak lama kemudian dilepaskannya.

Kulihat Mia mulai menggerakkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan, didorong-dorong ke atas merapatkan ke bibirku. Dan mendesah, "Eehk.., Ahk.., ahk..,"
Keadaan ini tidak kusia-siakan, aku langsung berpindah posisi sambil melepas kimonoku, berputar searah dengan posisi Mia, dan secepat kilat juga aku sudah berada di atas Mia, namun tidak menindih tubuhnya dengan tubuhku yang besar dan berat ini.

Bagian yang belum kunikmati dari tadi ialah mencicipi bibir yang merah dan mungil kecil ini, dan langsung saja bibirku mengulum bibir Mia. Dia menyambut dengan nafsu, tidak kusangka kudapatkan semua dengan sempurna. Sambil berciuman, aku rapatkan zakarku yang sudah mengeras dari tadi ke bibir vagina yang masih rapat dan kecang itu. Sulit aku menemukan lubang vagina Mia, apa karena masih rapat atau karena beda panjang badan yang mencolok, kalau berdiri tinggi Mia memang setinggi pundakku.

Sambil menekan-nekan posisi badanku, sekarang sudah menekuk, tidak lagi mencium Mia, tapi tidak kusia-siakan yang ada di depanku, yakni kucium buah dadanya lagi. Mia merintih, kali ini rintihannya benar menahan sakit, padahal batangku belum menembus ke dalam, baru kepala batangku berada di bibir luar vagina Mia, tapi dia sudah merintih.
"Papa.., sakit Pa.." rintihnya.
"Aduh Sakit Pa.." ulangnya.
"Ahk.., u.. hk.."
"Papa.. sakit..!" teriaknya.

Bersambung ke bagian 03

Anak Tiriku 1

Saya Robby, pria berusia 34 tahun (saat ini), seorang pengusaha yang berkantor di Bandung, usaha saya berjalan dengan baik dan tidak terkena imbas krisis moneter. Wajah dan perawakan saya tergolong keren, tinggi besar, dada bidang, badan atletis, dan berlibido tinggi.

Singkat cerita, yaitu empat tahun yang lalu tepatnya di usiaku 30 tahun, aku terpikat dan jatuh cinta dengan seorang janda yang telah memiliki 3 anak, yang saat ini menjadi istri pertamaku. Siska nama janda itu, usianya lebih tua dariku 8 tahun, keturunan Sunda Jepang. Walau lebih tua dariku namun bila disandingkan dengan wanita seusiaku penampilannya tidak kalah, bahkan sulit untuk dibedakan mana yang tua dan mana yang lebih muda.

Saat ini ketiga anaknya yaitu anakku juga (anak tiri), yang paling besar Mona, mahasiswa semester 4 di PTS swasta, adiknya Mira kuliah di Akademi sekretaris, semester satu, dan yang paling kecil Mia masih duduk di kelas 3 SMU. Ketiganya sangat dekat denganku, manja dan cantik-cantik, putih dan segar, karena mereka tergolong anak-anak yang rajin merawat tubuh seperti mamanya.

Satu tahun belakangan ini aku sering memperhatikan pertumbuhan dan perubahan tubuh mereka, mulai dari kulitnya sampai dengan buah dada mereka yang ranum. Dan sejak itu pula sering tersirat di benakku untuk menikmati tubuh yang indah-indah itu. Sudah pasti cara menikmatinya yaitu dengan memandangi, memegang, menjilati dan merasakan sentuhan batang kelaminku di semua kulitnya.

Kalau keinginan memandang sudah sering kudapati, seperti kalau sedang duduk bersama satu keluarga atau kalau sedang bercanda, sering kulihat pangkal paha mereka, bahkan pemandangan sekilas tubuh mereka tanpa busana pun pernah kulihat, tapi itu kan hanya sekilas, sedangkan kenikmatan yang kuinginkan adalah memandanginya tanpa putus. Pokoknya aku ingin merasakan ketiganya, gilakan.. Itu semua memang ketiganya sangat menggairahkan birahi kelaki-lakianku.

Kesempatan pertama tiba juga, yaitu pada waktu acara perkawinan emas mertuaku di Cimahi, semuanya kami diundang untuk pesta acara tersebut, pesta diadakan satu malam suntuk dimulai dari jam 7 malam. Waktu itu aku tidak dapat hadir lebih awal, karena harus bertemu tamu bisnisku dari Eropa, sehingga kuputuskan untuk menyusul saja.

Sekitar pukul 6 sore, Siska istriku menghubungiku di HP, pesannya bahwa sebelum berangkat aku mampir ke rumah dulu untuk jemput Mia, karena Mia juga pulangnya telat karena ada pertandingan basket di Sekolahannya. Sedangkan istriku berangkat terlebih dahulu dengan Mona dan Mira kakaknya Mia.

Jam 7.40 malam aku tiba di rumah, mobil kuparkir di halaman, tidak langsung kumasukkan ke garasi, karena memang aku akan keluar lagi.
"Non Mia sudah pulang mang Udin..?" tanyaku kepada pembantu rumah kami.
"Sudah Tuan, barusan saja..," jawab Mang Udin singkat sambil menutup pintu mobil.
Aku langsung berjalan menuju teras rumah dan ruang tamu. Setibanya di ruang tamu kutemui Mia sedang berbaring di sofa sambil memijit-mijit bahu kanannya.

Mia berbaring telentang dengan pakaian basket yang seksi, celana strite basketnya yang ketat membentuk bayangan gundukan di antara pangkal paha yang putih itu, dan kaos basket yang basah lusuh juga membentuk dua buah dadanya mumbul ke atas. Posisinya yang telentang membuatku terperanjat dan menghentikan langkahku.

"Mia.., kok kamu belum rapi sayang..?" sapaku halus penuh dengan kemanjaan.
Yang satu ini memang lain, maklum yang paling kecil jadi sangat manja denganku. Dia sering berlendotan denganku, bahkan tidak perduli bila pada saat bercanda, buah dadanya sering tersentuh dengan tanganku, sebaliknya tanggannya secara tidak sengaja kadang menyentuh kejantananku.

"Ayo buruan, nanti kita telat sayang.." lanjutku sambil berlalu menuju ke kamar.
"Mia tidak ikutan aja ya.. Pa..," jawabnyanya manja pula.
Langkahku terhenti dan berbalik ke arahnya yang sudah tidak terlihat karena terhalang sandaran sofa.

"Memangnya kamu kenapa sayang..?"
Kutanya dan kuhampiri anak tiriku itu sambil berlutut di samping wajahnya di depan sofa dengan kedua siku tangganku kuletakkan di busa dudukan sofa, dan kedua telapak tanganku menopang dagu, persis seperti orang sedang melamun. Pada posisi ini wajahku dengan gundukan dadanya sangat dekat, lebih kurang satu jengkal, sedang dengan wajahnya lebih kurang dua jengkal. Aroma keringat bercampur wangi parfumnya bercampur membangkitkan nafsuku.

"Kenapa.., kamu kecapean..?" tanyaku lagi dengan pelan, sambil mengusap rambutnya dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku tetap menompang pada dagu.
"Ini Pa.., bahu Mia keseleo, tadi terjatuh pada saat bertanding..," lapornya sambil memiringkan badannya ke kiri menghadapku, yang maksudnya ingin menunjukkan bahu yang sakit itu. Tanganku yang kiri yang sedang menompang dagu menempel rapat dengan kedua dadanya pada saat Mia memiringkan badan tadi. Jantungku langsung berdebar, dan batang kemaluanku terasa perlahan bergerak membesar.

Kubiarkan terus tangan kiriku menempel sambil kuperiksa bahu kanan yang katanya sakit tadi dengan tangan kananku membuka sedikit lingkaran t-shirt Mia. Terlihat jelas di depan mataku bulu roma yang halus di sekitar lehernya dan pundak yang putih mulus, kupijit-pijit halus sambil kuelus lembut bahunya. Hatiku berkata tercapai sedikit keinginanku.

"Ah.., ini tidak terlalu parah sayang..,"
"Tapi sakit Pa..," jawabnya cepat.
"Bukannya ini alasan kamu saja untuk tidak ke pesta Oma.." sanggahku, "Kamu jangan bohong, Papa kan tahu, Papa ini guru karate.."
"Benar Pa.., sakit.." jawabnya meyakinkan.

Pembicaraan singkat ini berlangsung terus sambil tanggan kananku memijat lembut bahunya, dan sekali-sekali mengelus sampai ke punggungnya. Tidak ketinggalan beberapa kali kuciumi pipi kanannya. Soal ciuman pipi sudah tradisi di keluargaku, tapi ciuman ini aku bedakan, ciuman kudekatkan ke telinganya, sehingga terkadang Mia terasa geli. Batang kemaluanku sudah semakin mengeras, pikiranku semakin ngeres, dan kuputuskan kesempatan ini untuk tidak kusia-siakan mencapai keinginanku. Mumpung di rumah tidak ada siapa-siapa, jarang suasana ini terjadi.

"Ayo sudah, sekarang sudah sembuh, cepat salin sana.." tegasku dengan gaya kebapakan sambil kucium pipinya.
Aku bangun dan beranjak ke kamar, seolah tanpa memperdulikannya. Kutahu Mia masih tiduran di Sofa sambil malas-malasan. Sambil menuju kamar, kususun rencana jitu untuk menikmati tubuh Mia. Sambil jalan menuju kamar melewati meja telepon, kucabut kabelnya, agar saat aku bereaksi nanti tidak terganggu dengan dering telepon.

Setibanya di kamar, aku langsung melepas baju kerjaku, tidak lupa kaos dalam dan CD-ku. Sekelibat kusambar kimono yang tergantung di belakang pintu kamar, kubalut tubuhku yang ateletis ini dengan kimono, sehingga saat aku bereaksi nanti sudah tidak merepotkan lagi. Segera kumulai niatku dengan memanggil Mia yang masih di sofa tamu.
"Mia.., sini Papa benerin ototmu yang keseleo.." panggilku.
"Kamu tidak boleh tidak datang di acara Oma.." kutegaskan tanpa menunggu jawaban dari luar kamar.

Kudengar suara langkah diseret dari arah ruang tamu, sudah pasti itu Mia, dan kuberkata dalam hati, "Tehnik pertama berhasil, yaitu membawa Mia masuk ke dalam kamar."
Kudengar suara pintu terbuka, aku pura-pura tidak memperhatikan siapa yang masuk dan sudah pasti Mia, dan aku pura-pura sibuk dengan mencari baju di lemari pakaian. Mia masuk dan duduk di tepi ranjangku, dan segera tidur telentang sambil kedua kakinya masih menyentuh lantai. Aku dapat melihatnya dari kaca lemari pakaianku. Keadaan ini hapir membuatku tidak sabar dan gegabah memainkan peranku.

Langkahku mantap bergerak ke sebelah lemari pakaian menuju meja hias yang di atasnya terdapat tumpukan perlengkapan make-up istriku. Kusambar hand body yang ada di situ, dan berbalik menuju ke tempat tidur yang di situ Mia masih terbaring telentang menantang. Kudekati gadis mungil dan montok ini, sambil mengeplak samping pantatnya kuperintahkan dia naik tengah tempat tidur.

"Sekarang Mia duduk bersila.." perintahku lembut.
Dia menuruti perintahku dengan malas-malasan bangun dari telentang dan naik ke tengah tempat tidur, duduk bersila menghadap ke dinding kamar mandi yang ada di sisi kanan tempat tidurku. Aku duduk berlutut tepat di belakangnya, dan kutarik ujung t-shirt-nya dengan kedua tanganku ke atas perlahan-lahan dengan maksud ingin membukanya.

Sesampainya di kedua ketiak Mia, tiba-tiba ia berkata sambil mengepit ketiaknya.
"Kok dibuka Pa..?"
"Lah ia dong sayang.., kalau tidak bagaimana Papa mengurutnya..?" jawabku.
"Kalau Mia malu, tutupi saja bagian depan tubuh Mia dengan t-shirt.."
Tanpa menunggu jawaban Mia, kuteruskan rencana kedua ini, dan ternyata dia tidak menolak seperti sebelumnya tadi. Benar t-shirtnya ditutupi ke bagian depan tubuhnya, dengan kedua tangannya menempel ke atas payudaranya menahan t-shirt. Terlihat jelas punggung yang mulus, putih tanpa sedikit bercak pun, beberapa detik kuperhatikan dan selanjutnya kuberkata.
"Sebentar Papa matikan lampu, biar Mia tidak malu.."

Aku langsung saja melompat ke arah saklar lampu, "Tik..!, lampu kamar mati, yang tinggal hanya lampu ranjang kiri dan kanan, serta lampu meja hias. Sengaja aku lakukan ini untuk membuat suasana romantis. Aku kembali lagi ke posisi semula, yaitu berlutut di belakangnya. Aku mulai dengan mengurut pundaknya. Kuoleskan hand body yang memang sudah kupersiapkan. Kulakukan pijatan sebagaimana mestinya, aku sedikit mengerti mengurut orang keseleo, karena dulu kupelajari pada saat aku belajar ilmu bela diri.

Pijatanku membuat Mia terkadang meringsis dan mengeluarkan suara rintih kesakitan. Otot-otot pundak sudah selesai aku benarkan, sekarang aku beralih ke pangkal tanggannya, kubenarkan otot yang keseleo, tangan kananku mengurut pangkal lengan yang atas dan tangan kiriku menahan dada atasnya tepat di atas buah dada yang menonjol. Posisiku sudah agak tegak, dan karena aku harus menarik ototnya dari mulai dada atas, maka terpaksa tangan Mia yang kanan sedari tadi memegang t-shirt terpaksa dilepas. Terlihat gundukan buah kanannya menonjol dari balik BH yang berukuran 32.

Kemaluanku berdiri semakin keras di balik kimono, dan melongok keluar di antara belahan kimono yang kupakai hampir menyentuh punggung belakang Mia. Mataku terus memperhatikan gundukan buah dada Mia, daya kontrolku hampir hilang dikarenakan nafsu yang sudah mulai bergolak. Untung saja aku tersadar dengan rintihan suara Mia yang kesakitan.
"Aduh Pa.., sakit..!" rintihnya.
"Pelan-pelan dong Pa.." pintanya lagi.
Aku terkejut dengan suara tadi, dan langsung kunetralisir.

"Kalau mau tidak sakit, itu namanya dielus-elus bukan diurut.." sanggahku, "Nanti kalau Mia mau setelah semua otot yang keseleo bener, baru Oapa elus-elus.." kataku lagi.
"Idih Papa jorok..," sambutnya malu.

Aku teruskan mengurut bagian pangkal tangannya, sekarang melingkar ke pergelangan pangkal tangannya, dan dengan gaya professional, kusisipkan telapak tangan kananku di bawah ketiak kanan Mia, sambil sebentar-sebentar menyentuh samping atas buah dadanya yang kanan juga. Bagian tangan sudah cukup kurasa karena sedari tadi sambil kuurut sambil menyentuh bagian atas buah dada anak tiriku ini. Dia diam saja tanpa komentar apapun, dan yang kutahu dia merasakan sedikit kenikmatan.

Ohh Mba Lulu

Andi namaku. Umurku 21 tahun dan masih kuliah. Aku anak kedua setelah kakakku. Kami hanya dua bersaudara. Kakakku berumur 23 tahun dan baru wisuda. Aku memanggilnya Mbak Lulu. Kakakku memang cantik, tubuhnya putih mulus, dadanya gede dan pantatnya yang montok. Tingginya 171 cm dan berat 54 kg. Sangat seksi sekali, sehingga banyak cowok yang naksir termasuk aku sendiri. Aku punya kebiasaan onani setiap hari, bahkan bisa lebih lima kali sehari. Dan sering hayalanku tertuju pada Mbak Lulu. Aku sering pura-pura ke kamarnya dengan maksud mengintipnya.

Suatu siang, aku melihatnya sedang berbaring di ruang tamu dengan hanya memakai rok pendek dan baju ketat. Kuperhatikan ternyata dia tidur. Mataku tertuju pada pahanya yang mulus. Nafsuku langsung naik, sambil menelan ludah aku berjongkok mendekatinya dan meraba paha mulusnya. Kuangkat roknya keatas dan kulihat CDnya yang menutupi seonggok daging tebal. Nafsuku makin menjadi-jadi. Kuturunkan CDnya pelan-pelan sampai paha, kuraba vaginanya yang tebal ku remas dengan pelan karena takut Mbak Lulu bangun. Nafas ku makin cepat menahan nafsu yang semakin naik. Vagina Mbak Lulu terasa hangat dan lembab.

Aku terus menggosokan jari ku pada belahan vagina Mbak Lulu yang makin agak lembab. Namun dengan semua yang kulakukan pada vanigina Mbak Lulu, Mbak Lulu masih tetap saja tidur terpejam. Aku penasaran dan akhirnya aku mulai berani menjilatinya. Anehnya Mbak Lulu tetap tertidur. Kujilati vaginanya sampai basah dan kugesekkan penisku diantara paha mulusnya, akh nikmatnya saat kepala penis ku bersentuhan dengan paha mulus Mbak Lulu, geli. Sampai menyemburkan sperma yang mengenai CDnya. Lalu kubersihkan dan kupasangkan lagi CDnya pelan-pelan. Dikamar aku terus terbayang, karena ini pengalaman pertamaku dan akan kulakukan lagi.

Malamnya pukul 1 dini hari, aku masuk kekamar Mbak Lulu dan ingin mengulangi pengalaman siang tadi. Kulihat dia tidur menggunakan kimono. Kudekati dan kubuka pelan-pelan tali kimononya. Wow.. Ternyata Mbak Lulu bugil tanpa benang sehelai pun, hanya terbalut kimono. Kubuka kimononya dan terlihat payudaranya yang gede (kira-kira 36B) dan montok. Kuremas dan kujilati putingnya yang merah. Kudengar Mbak Lulu mendesah tetapi matanya tetap terpejam. Kulanjutkan aktifitasku kearah vaginanya.

Kujilati daging kecil (klitoris) diatasnya sampai puas dan kurasakan kepalaku dijepit serta lidahku merasakan cairan hangat. Kuhentikan jilatanku, sambil kuperhatikan paha Mbak Lulu yang merapat seperti sedang menahan pipis. Kuperhatikan matanya yang terpejam tetapi nafasnya cepat. Kubuka lebar selangkanganya dan kugesekkan penisku dibibir vaginanya. Kuselesaikan dengan semburan sperma diatas perutnya. Sebenarnya aku pengen merasakan gesekan dan cengkeraman otot vaginanya, tetapi aku takut dia bangun. Lagi pula dia kakak kandungku sendiri. Kubersihkan bekas spermaku dan kupakaikan lagi kimononya, lalu aku pergi tidur.

Besoknya aku tidak mencobanya lagi karena aku takut ketauan. Jadi aku cuma onani sambil berkhayal. Sampai suatu malam, hujan turun sangat lebat sekali. Aku tidak ada kegiatan, jadi aku berencana nonton bf dikamarku. Lagi asik-asiknya nonton, tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Aku langsung mematikan TV dan membuka pintu. Tapi tidak ada orang, melainkan secarik kertas. Kuambil dan kututup pintu kamarku. Disitu tertulis, "I KNOW WHAT U DID LAST MONTH", so "DO IT AGAIN". Aku terkejut membacanya, mungkinkah Mbak Lulu tahu? pikirku. Tapi kenapa dia menyuruh untuk melakukan lagi. Ah.. Sudahlah yang penting Mbak Lulu nggak marah dan dia suka. Dengan semangat campur nafsu (habis nonton BF) aku ke kamar Mbak Lulu. Kulihat matanya terpejam dan tubuhnya tertutup selimut. Kudekati dan kutarik selimutnya. Ternyata Mbak Lulu nggak pake baju (bugil). Kujilat pentilnya yang merah, tiba-iba dia bangun dan memelukku. Aku terkejut dan langsung berdiri.

"Kenapa, takut", katanya.
"Kemarin kok berani, ayo.. Kemari nikmati tubuh Mbak" katanya lagi.
"Bener nih" ujarku. Aku langsung membuka bajuku dan langsung menerkamnya dan melumat bibirnya. Kuremas-remas payudaranya dan kuisap pentilnya.
"sstt.. Terus.. Ndi.. Ssst.." desahnya.

Lima menit kujamah payudaranya dan aku mulai menuju vagina Mbak Lulu. Aku menelusuri tubuh Mbak Lulu, kulitnya yg putih mulus dan kencang aku belai mulai payusara nya, terus ke perut nya yang rata, pusar nya. Aku cium pusarnya dan terus ke bawah munuju selangkangan Mbak luilu. Harum aku cium tubuh Mbak Lulu. Sementara tangan Mbak Lulu mulai membalai penis ku yanmg sudah tegang dari tadi, akh nikmatnya. Jari tangan Mbak Lulu yang lentik dan lembut menggenggam penisku yang berdenyut. Tanganku mulai meremas vagina Mbak Lulu yang makin basah. Dengan bulu vagina yang tidak terlalu lebat tapi tercukur rapih, aku bisa melihat belahan vagina Mbak Lulu yang indah. Aku remas lembut dan aku belai vagina Mbak Lulu.

"Oohh.. Ndi.. Akh.." desah Mbak Lulu.

Aku dekatkan lagi muka ku dengan selangkangan Mbak Lulu untuk ketuga kalinya, namun kali ini aku tak takut dan waswas seperti sebelumnya. Makin dekat vagina Mbak Lulu dengan wajah ku hingga aroma vagina Mbak Lulu yang menarangsang makin terasa. Aku kecup lembut vagina Mbak Lulu, dan Mbak Lulu langsung mendesah dan mengerang kerika bibir ku bersentuhan dengan permukaan vagina Mbak Lulu.

"Akh.. Andi.. Nikmat.. Akh.." eerang Mbak Lulu lagi.

Aku yang makin bennafsu langsung mencium dengan buas vagina Mbak Lulu, Aku jilat dan hisap vagina nya, aku jilati cairan yang membasahi permukaan vagina Mbak Lulu, aku terus menjilat vaginanya.

"Oh.. Ssstt.. Enak.. Terus.. Ah.. Ah.." erangnya.

Kujilati terus sampai kurasakan vaginanya menyemburkan cairan hangat dan berdenyut. "ohh.. " terdengar erangan Mbak Lulu tanda dia orgasme. Aku meremas-remas payudaranya agar nafsunya bangkit lagi. Kujilati sambil tanganku menggosok vaginanya yang basah.

"Ayo.. Masukin aja" bisiknya.

Seperti yang sering kulihat di film, kubuka lebar selangkangannya dan kutusukkan penisku keliang surganya. Sulit sekali, pelan-pelan dan bless amblas penisku terbenam dalam vaginanya.

"Akh.." erangku panjang. Sementara tubuh Mbak Lulu sedikit tersentak saat penis ku masuk ke dalam liang surganya itu.
"Eemmpphh.. Aaakkhh.." erang Mbak Lulu sambil menggigit bibirnya tanda Mbak Lulu menikmati tusukan pertama penisku ke dalam vagina Mbak Lulu.

Rasanya penisku seperti dijepit kuat sekali. Kugoyang maju mundur (Mbak Lulu sudah tidak perawan lagi, nggak tahu siapa yang buat). Kulihat Mbak Lulu mulai menikmati lagi. Kugoyang makin cepat.

"Ohh.. Ohh.. Ngg.. Ayo.. Lagi.. Terus.. Owww.." jeritnya.

Dengan satu tangan menopang tubuhku, sambil menggoyang pantaku naik turun, tanganku meremas payudara Mbak Lulu yang lembut kenyal namun kencang. Tak hentinya Mbak Lulu mendesah dan mengerang saat sodokan demi sodokan penisku menembus vagina Mbak Lulu. Bunyi kocokan penisku di vagina Mbak Lulu menambah suara yang ada di ruangan itu. Mbak Lulu memejamkan matanya, tanggannya ia naikan ke atas dan memegangi bantal dan meramasnya. Tanda Mbak Lulu sangan menikmati pemainan in dengan aku. Dengan posisi itu aku dapat melihat tubuh Mbak Lulu yang indah ramping, seperti sebuah gitar dengan lekuk yang mulus. Payudaranya bergerak dan bergoyang seirama dengan sodokan penisku di liang ternikmat yang pernah aku rasakan. Aku tak tahan hanya meremas payudara nya, sambil terus menggoyang pantat ku aku cium dan lumat lagi payudara Mbak Lulu dan aku gigit kceil putingnya.

"Aw.. Akh.. Ndi.. Ooohh.." erangnya agak keras. Aku cium bibirnya yng merah.
Hingga.., "Aku.. Mau.. Keluar.. Mbak.." jeritku.
"Tahan.. Sama-sama.. Di dalam aja.." katanya lagi.

Crott.. Crot.. Croott.. Kusemburkan spermaku didalam rahimnya. Kurasakan penisku berdenyut-denyut.

"Akkhh.." erangku panjang.


Kurasakan kenikmatannya sampai ubun-ubun. Aku terus menggoyang penisku maju mundur dan kaki Mbak Lulu mengepit kuat pinggangku. Kurasakan penisku disembur cairan hangat dan kulihat Mbak Lulu mengejang menahan kenikmatan orgasmenya.

"Aaahh.." desahnya puas.

Penisku kubiarkan menancap, menikmati otot vaginanya yang berkontraksi meremas-remas penisku. Setelah selesai, aku berbaring disamping Mbak Lulu sambil meremas-remas payudaranya.

"Makasih Mbak, betul-betul nikmat", kataku.
"Kamu juga nikmat" katanya sambil tersenyum.

Aku pun langsung melumat lagi bibir Mbak Lulu, kami pun kembali berciuman dengan lembut kali ini layaknya seperti sepasang kekasih.

Malam itu kunikmati lagi tubuh Mbak Lulu, kali ini aku yang berbaring terlentang dan Mbak Lulu yang memulai nya. Dia mencium bibirku semetara tangan ku meremas kedua payudaranya. Penisku yang tadi agak mengecil mulai bangun lagi dan mengeras. Tangan Mbak Lulu kemudian mengocok penis ku.

"Eemmpp.. Akh.." erangku merasakan nikmatnya kocakan tangan Mbak Lulu yang lentik.

Penisku kembali tetang dan keras seperti tapi setlah di kocok-kocok oleh tangan Mbak Lulu. Melihat itu Mbak Lulu yang jg seprtinya sudah ga tahan langsund menduduki selagkangannku hingga penisku tertindih tubuhnya. Mbak Lulu lalu maju sedikit hingga posisinya dia kira pas, dan dengan di bimbing tanggannya, penisku di arahka ke liang senggamanya lagi.

Aku rasakan vagina mbk Lulu masih basah, dang saat tepat kepala penisku berada di bibir vaginanya, Mbak Lulu mengangkat tubuhnya dan dengan perlahan kembail turun hingga perlahan juga penisku masuk lagi ke dalam vagina Mbak Lulu yang hangat, licin dan nikmat itu. Dan karena sudah licin hingga penisku masuk dengan lancar ke dalam vagina Mbak Lulu hingga bless masuk seluruh batang penis ku ke dalam vagian Mbak Lulu, aku terpejam dan mendesah saat jepitan daging licin dan hangat itu menggesek ke penis ku. Mbak Lulu yang sudah naik nafsunya langsung bergerak naik turun hingga mengocok penisku. Sebenarnya aku kurang merasa kenikmatan seprti tadi dengan posisi sekarang, namum melihat gerakan dan goyangan Mbak Lulu yang bersemangat, menunjukan Mbak Lulu sangat menikmati posisi kali ini.

"Aakhh.. Akh.. Eemmhh.." desah Mbak Lulu.

Aku biarkan Mbak Lulu yang menguasai permainan kali ini, dan memang Mbak Lulu sangat menyukai posisi di atas ini, terbukti dengan goyangan pinggul Mbak Lulu yang makin liar hingga aku yang tadi agak pasif kembali mualai bergerak. Aku remas kedua payudara Mbak Lulu yang bergerak naik turun, kenyal dan lembut. Aku belai pinggangnnya dan aku elus punggung mulus Mbak Lulu yang kemudian aku tarik hingga kami berciuman kembali. Mbak Lulu membungkuk tapi pinggulnya terus pergreak liar, naik turun, berputar hingga penisku yag ada dalam vaginanya semakin terasa terjepit, namum sangat nikmat, aku mulai dengan pelan mengocok naik turun namun aku yag pertama kali merasakan gaya tersebut agak kaku yang membuat Mbak Lulu tersenyum di antara erangan dan desahan nya.

Aku cium payudaranya, aku remas, aku hisap putingnya dengan gemas dan Mbak Lulu pun merasa akan orgasme dengan goyangan pinggul yang makin cepat dang gerakan naik turun pantatnya yang bahenol juga erangan, dan desahannya. Aku yang makin nafsu juga semakin aktif bergerak, tidak hanya ppinggul, namun tangan ku meremas payudara Mbak Lulu. Hingga..

"Akh.. Akh.. Eemmhh.. Ndi.. Akh.. Mbak.. Mau.. Keluar.. Aakh.." desahnya hingga akhirnya tubuh Mbak Lulu bergetar dan aku rasakan cairan hangat lagi di penisku yang masih ada di dalam vagina Mbak Lulu.
"Aaakh.." desahnya panjang yang kemudian tubuh Mbak Lulu terkulai dan rebah di atas tubuhku hingga payudara Mbak Lulu menempel di dadaku.

Aku biarkan beberapa saat dan aku juga menikmati remasan dari otot vagina Mbak Lulu yang berkontarksi meremnas dan menjepit batang penisku. Dan aku yang tidak mau kehilangan momen itu langsug membalikan dan memutar tubuh kali hingga kembali Mbak Lulu di bawah. Sambil aku rasakan pijatan lembut itu aku kocok lagi penisku naik turun hingga tak lama..

"Akh.. Mbak.. Ndi.. Mau.. Keluar.. Akh.." desahku dan crott.. crott.. crott..

Spermaku aku semprotkan lagi di dalam rahimnya. Dan aku terkulai di atas tubuh kakakku yang sexy itu. Setelah selesai aku rasakan kenikmatan itu, aku berbaring lagi di sebelahnya dan mencium lagi bibir Mbak Lulu yang hangat dan nikmat.

"Kamu hebat sayang.." sahut Mbak Lulu sambil tersenyum.
Aku kecup lagi bibirnya dan bilana, "Mbak.. Ini malam yang gak bakal Ndi lupain, Mbak udah ngasih kenikmatan buat ndi..", kataku.
Dan Mbak Lulu pun bilang, "Sama ndi, Mbak juga nikmatin banget". Akhirnya kami tidur saranjang karena kelelahan dan masih telanjang sambil berpelukan.

Pagi hari aku bangun meninggalkan Mbak Lulu yang masih tidur telanjang dan aku kembali ke kamarku dan tertidur dengan pulas. Semenjak itu, kami sering melakukannya kapan saja dengan gaya berbeda-beda. Terkadang kusodok pantatnya yang montok, kusuruh mengisap penisku dan menelan spermanya. Pokoknya aku puas menikmati seks dengan Mbak Lulu.

E N D