Jumat, 03 Juli 2015

Keponakanku Yang Seksi 1

Kebetulan sekolah sedang libur di bulan Oktober ini, aku (namaku Tris) bersama istri dan kedua anakku (yang besar baru kelas I SD) berlibur ke Malang sambil mengunjungi orang tua istriku. Rumah mertuaku bukannya di kota Malangnya tetapi agak jauh di Desa di luar kota Malang yang masih terasa sejuk. Seperti kebiasaan di desa, tetangga-tetangga mertuaku masih termasuk keluarganya juga dan di samping kiri rumah mertuaku adalah keluarga adik perempuannya yang sudah mempunyai anak 3 orang dan semuanya perempuan. Yang terbesar nama panggilannya Asih dan masih duduk di kelas 3 SMU di desanya, yang kedua bernama Ami masih kelas 1 di SMU-nya Asih dan yang terkecil Ari masih duduk di kelas 2 SMP, sedang bapaknya kerja di suatu PT di Surabaya yang hanya pulang ke desanya setiap bulan habis gajian.

Yang kudengar dari mertuaku, ke 3 keponakannya itu walau tinggal di desa tapi badung-badung dan susah di atur sampai-sampai ibunya kewalahan. Kupikir mungkin akibat bapaknya tidak pernah ada di rumah sehingga tidak ada yang disegani.

Untuk menyingkat cerita, baiklah kumulai saja kisah nyataku ini. Ketika tahu aku dan keluargaku datang di desa, ibunya Asih datang kepadaku dan meminta tolong untuk memberi les kepada ketiga anaknya terutama kepada Asih, karena ujian akhir sudah dekat. Oh iya, mertuaku dan keluarganya tahu kalau aku dulu kerja sebagai seorang Guru SLTA sebelum diterima kerja di salah satu BUMN di Jakarta. "Naak.. Triis, mumpung lagi libur di sini, tolong yaa si Asih dan adik-adiknya diberi les", kata ibunya Asih sewaktu semua keluarga sedang ngobrol-ngobrol. Asih dan adik-adiknya langsung protes ke ibunya,
"Buu, ibu ini gimana siih. Kita sedang libur kok malah disuruh belajar?"
"Asiih", teriak ibunya agak keras,
"Apa angka-angka di raportmu sudah bagus? Apalagi ujian sudah dekat, kalau hasil ujianmu jelek, bapakmu mana sanggup menyekolahkan kamu di Universitas swasta", lanjut ibunya dengan sedikit ngotot.

Supaya tidak terjadi keributan, lalu aku berusaha menengahinya dengan mengatakan "Asiih", ibumu benar ikut ujian UMPTN itu tidak gampang. Mas Triis mau kok membantu Asih dan adik-adik dan waktunya terserah saja, bisa pagi, siang atau malam."

Kebetulan hari Selasa sore, istriku dan ibunya pergi ke Kediri untuk mengunjungi saudaranya yang sedang sakit dan mungkin akan menginap semalam. Kira-kira jam 9 malam ketika aku sudah siap akan tidur, Asih yang memakai baju tidur tanpa lengan yang longgar dan belahan dadanya yang sangat rendah datang memintaku untuk mengajari matematika. "Lho kok malam-malam begini sich apa tidak ngantuk nanti?", kataku agak malas karena aku sendiri sudah mulai ngantuk. "Naah.. kata Mas Tris kemarin terserah Asih soal waktunya kebetulan lagi belum ngantuk nih Mas", jawabnya. Lalu Asih mengajakku ke rumahnya dan dia sudah menyiapkan buku-bukunya di meja makan. "Lho.. kok sepi", tanyaku pada Asih melihat rumahnya terasa sepi, "Kemana Ibu dan adik-adik mu Siih?" Sambil duduk di kursi satu-satunya di meja makan, Asih mengatakan kalau mereka sudah tidur sejak tadi.

Lalu Asih mulai membuka bukunya dan menanyakan persoalan-persoalan matematika yang tidak dimengertinya dan aku menerangkannya sambil berdiri disamping kirinya sambil sesekali kulirik belahan dadanya yang sangat jelas terlihat dari atas. Payudaranya tidak terlalu besar tapi terlihat menonjol tegang di balik baju tidurnya yang berleher rendah itu. Dari pengamatanku beberapa saat sewaktu Asih mengerjakan soal-soal matematika yang kuberikan, kelihatannya dia tidak bodoh-bodoh amat, mungkin karena bandel dan tidak pernah belajar saja sehingga hasil rapornya jelek. Suatu saat ketika aku menuliskan jawaban matematika yang ditanyakannya, secara tidak sengaja siku tangan kananku menyenggol payudaranya dan terasa empuk kenyal walaupun masih terbungkus BH-ya. "Asiih, ma'af yaa tidak sengaja", kataku basa-basi. eeh tidak menyangka kalau Asih malah berguman, "Aah sengaja juga tidak pa-pa kok.. Maas", katanya dengan tanpa menoleh. Nah kesempatan baik nih, sambil menyelam minum air, sambil mengajari siapa tahu dapat kesempatan menggoda Asih yang kudengar bandel dan suka pacaran di sekolahnya, pikirku.

Kembali Asih mengerjakan soal-soal yang kuberikan dan aku melihat apa yang dikerjakannya dari belakang badan Asih dan sesekali kulongok belahan dadanya yang membuat dadaku berdesir dan kepingin memegangnya serta membuat celana pendek piyama yang kukenakan kelihatan menonjok akibat penisku sudah berdiri. Aku jadi melamun dan mencari jalan bagaimana cara memulainya supaya bisa memegang payudara Asih. "Maas, panggil Asih yang membuatku agak tersentak dari lamunanku, kalau yang ini, gimana ngerjakannya?" kata Asih yang agak menunduk mendekati kertas kerjaannya di meja makan. Lalu aku membungkukkan badanku dari belakang sehingga badanku menempel di sandaran kursi dan kepalaku ada di kanan bahu Asih sambil tangan kananku menjulur ke depan di atas kertas kerjaan Asih dan menerangkan bagaimana cara mengerjakan persoalan yang ditanyakan, dan Asih tidak berusaha menghindar dari posisiku dalam menerangkan dan juga tidak berkomentar ketika beberapa kali payudaranya tersenggol tanganku sewaktu bergerak menerangkan di kertas kerjaannya. "Sudah mengerti aas", tanyaku setelah selesai menerangkan dan "Suu..daah maas", jawab Asih pelan dan kuangkat kepalaku menjauhi kepala Asih sambil kukecup mesra leher Asih yang jenjang dan kulihat Asih agak menggelinjang mungkin kegelian dengan kecupanku itu sambil berkata lirih "Aahh maas gee..niit aahh nanti Asih kasih tahu Mbak Sri (nama panggilan Istriku) lho baru tahu", menakut-nakutiku. "Yaa jangan dong Aas, bisa perang dunia nanti", kataku dari belakang dan kulanjutkan kata-kata rayuan gombalku "Haabis, Asih maniis dan body Asih menggairahkan siih", sambil kembali kukecup lehernya.

Lagi-lagi Asih menggelinjang dan lalu melepaskan pinsil dari tangannya sambil berkata pelan seolah mendesah "aahh maas, jaa..ngaan nanti ada yang tahuu." Karena tidak ada tolakan yang berarti dan Asih tidak berusaha menghindar atau pergi, aku semakin tambah berani dan kupegang kepalanya serta agak kuputar sedikit ke kanan lalu segera bibirnya kucium dalam-dalam dan tidak menyangka kalau Asih malah membalas ciumanku dan tangannya dirangkulkan ke badanku. Karena dalam posisi begini kurang nikmat, sambil masih tetap berciuman, lalu kuangkat Asih berdiri dari duduknya dan kupeluk rapat-rapat badannya ke badanku. Setelah puas kami berciuman, lalu kualihkan ciuman serta jilatanku ke arah leher Asih dan kudengar Asih mulai berdesah "Aahh.. aah maass aahh.. maas ja..ngaan di sini.. nanti ketahuan", mendengar desahan yang cukup merangsang ini, aku semakin tidak dapat menahan nafsu berahiku lalu tangan kananku kugunakan untuk meremas-remas payudara Asih dari luar BH-nya dan Asih kembali mendesah "aah maas ja..ngaan disinii."

"Asiih, kita ke kamar Asih sajaa yaa", dan tanpa menunggu jawaban Asih, kuangkat dan kubopong tubuh Asih sambil kutanya, "Kamar Asiih yang mana.. As?"
"Di dekat ruang tamu Mas", sambil kedua tangannya dirangkulkan ke leherku. Rupanya kamar Asih terpisah jauh dari kamar-kamar lainnya dan sesampai di kamarnya lalu kurebahkan Asih di tempat tidurnya dan langsung kupeluk dan kembali kulumat bibirnya dan Asih pun meladeniku serta sepertinya sudah berpengalaman.
Setelah puas kulumat bibirnya, kualihkan ciumanku ke arah leher dan telinganya serta tangan kananku kugunakan kembali untuk meremas-remas payudaranya sedangkan Asih hanya mengeluarkan desahan-desahan. Sambil tetap mencium leher, telinga dan seluruh wajahnya, aku mulai mencoba melepaskan kancing-kancing baju tidur Asih dan setelah semua kancing terbuka, Asih mendesah, "Maas jangaan maas Jaa..ngan", katanya tanpa adanya penolakan atau menghentikan tanganku yang melepas kancing-kancing baju tidurnya. Ketika kubuka kaitan BH di punggungnya, Asih juga seperti tidak menolak tetapi masih terdengar desahan suaranya, "Maas ja..ngaan maas." Setelah kaitan BH-nya terlepas segera kubuka BH-nya dan terlihat payudara Asih yang tidak terlalu besar dengan puting susunya kecil kecoklatan, segera saja kualihkan cuimanku dari leher langsung ke payudaranya dan tangan kananku kugunakan untuk mengelus-elus vagina Asih dari luar CD-nya.

Seraya menggerak-gerakkan bagian dadanya dan kedua tangan Asih dirangkulkan kuat-kuat ke badanku, desahan Asih semakin sering terdengar", Maas maas aduuh maas teruus maas." Desahan-desahan Asih semakin membuat penisku semakin tegang saja, dan setelah beberapa saat kuciumi serta kujilati payudaranya yang ranum itu, lalu ketelusuri perut dan pusar Asih dengan ciuman serta jilatanku dan kugunakan kedua tanganku untuk melepas CD-nya sehingga vagina Asih yang menggelembung di antara kedua pahanya dan hanya ditumbuhi bulu-bulu hitam yang tipis terlihat jelas. Ketika jilatanku sudah mendekati bibir vaginanya, secara perlahan-lahan Asih membukakan kedua kakinya dan tercium aroma khas vagina. Aku sudah tidak sabar, lalu kujilat bibir vaginanya yang agak terbuka dan kurasakan tubuh Asih menggelinjang kuat sambil mendesah agak kuat. "Maas aduuh maas sudaah maas", sambil menekan kepalaku agak keras dengan kedua tangannya sehingga mulut dan hidungku terbenam dalam vaginanya dan basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya. Lalu kuhisap-hisap bagian clitorisnya yang membuat Asih semakin sering menggelijang dan kuat desahannya, "Maas maas teruus.. Maas", dan ketika bibir vagina Asih kubuka dengan jari-jari tanganku, kulihat lubang vaginanya sudah mempunyai lubang yang agak besar dan sambil tetap menjilati vaginanya aku segera berkesimpulan kalau Asih sudah tidak gadis lagi dan mungkin sudah beberapa kali vaginanya dimasuki penis orang lain. Jilatan-jilatan serta sedotan-sedotanku sudah keseluruh vagina Asih dan pinggulnya semakin kuat pergerakannya serta kudengar desahan kuat Asih lagi "Maas, maas, Asiihh nggaak kuaat laggii maas, aahh", sambil tangannya menekan kuat-kuat kepalaku cukup lama dan pinggulnya kelojotan dengan cepat. Tapi tidak lama kemudian Asih terdiam dan yang kudengar hanya nafasnya yang terengah-engah dengan kuat. Setelah kudengar nafasnya mulai agak teratur, kurasakan kedua tangannya berusaha menarik pelan kepalaku ke atas, lalu aku merangkak di atas badan Asih dan kupegang kepalanya sambil kuciumi seluruh wajahnya dengan mulut dan hidungku yang masih basah oleh cairan vagina Asih. Sambil mencium lehernya, lalu kutanyakan apa yang ada dalam pikiranku tadi, "Asih sebelumnya sudah.. pernah.. seperti ini.. yaa?" Dan seperti kuduga Asih menjawab pelan. "Sudah Maas dengan pacar Asih, tapi tidak seperti sekarang ini, pacar Asih maunya cepat-cepat dan setelah diam sesaat Asih melanjutkan kata-katanya, "Maas, tapi jangan kasih tahu Ibu yaa?" Aku hanya mencium bibirnya dan kujawab singkat, "Nggaak akan doong aas", dan kembali kuciumi wajahnya.



"aas, boleeh sekarang Mas masukin?" kataku setelah diam sesaat, Asih tidak segera menjawab tetapi kurasakan kedua kakinya digeser membuka. Karena tidak ada jawaban, lalu kupegang batang penisku dan kuarahkan ke lubang vaginanyah serta pelan-pelan kutekan kelubangnya. Walaupun vaginanya masih basah dengan cairan, kurasakan masuknya penisku ke dalam vaginanya agak susah sehingga kuperhatikan wajah Asih seperti menahan rasa sakit dan terpaksa tekanan penisku kutahan. Melihat wajahnya sudah biasa dan kurasakan tangannya yang berada di pungungku menekan pelan-pelan, lalu kembali penisku kutekan pelan-pelan dan tiba-tiba penisku seperti terperosok ke dalam lubang, bleess.. serta kudengar Asih berteriak kecil, "aachh maas tahaan", sambil menahan pinggulku.
Setelah diam beberapa saat, kudengar kembali Asih berkata pelan, "Maas .. jangaan dalam dalaam yaa Maas, Asiih takut sakiit." Agar supaya Asih tidak kesakitan, lalu kuikuti pesan Asih dan aku mulai menarik penisku pelan-pelan dari dalam vaginanya dan menekan kembali pelan-pelan serta kubatasi tekanan masuknya penisku itu seperti pertama kali masuk kira-kira sepertiga panjang penisku.

Setelah beberapa kali keluar masuk, kurasakan penisku mulai lancar keluar masuk vagina Asih dan kuperhatikan wajah Asih sudah biasa dan tidak sedang menahan sakit, malahan sewaktu aku menahan pinggulku agar penisku jangan masuk terlalu dalam, ternyata sekarang Asih menaikkan pinggulnya dan tetap menekankan kedua tangannya di pinggulku. Karena sudah ada tanda ini, lalu kukocokkan penisku keluar masuk vagina Asih pelan-pelan lebih dalam, dan terus lebih dalam lagi dan terus sampai akhirnya penisku bisa masuk semuanya ke dalam vagina Asih dan setiap kali penisku masuk semua ke dalam vaginanya dan terasa sampai mentok di vagina Asih, kudengar Asih berdesah, "aahh maas", berulang-ulang.

Karena sudah kuanggap lancar dan tidak ada keluhan dari Asih, sambil kuciumi wajah dan bibirnya, lalu kupercepat kocokan keluar masuk penisku di vaginanya dan akibatnya sangat terasa gesekan-gesekan di vaginanya yang terasa sempit itu, membuatku tidak sadar berdesah, "Sshh sshh.. enaak Aass.. aaccrhh", sedangkan Asih yang mungkin sudah begitu terangsang, vaginanya mencuat akibat keluar masuknya penisku dan kadang-kadang sampai mentok di ujung vaginanya, gerakan pinggulnya semakin cepat dan tidak teratur serta kuku jari tangannya mencengkeram kuat di pinggangku sambil sering kudengar desahnya, "Maas teruus maas enaak aahh sshh enaak maas." Tidak terlalu lama kemudian gerakan pinggul Asih semakin liar, pelukan dan cengkeraman kukunya semakin sering dan nafasnya juga sudah semakin cepat dan tiba-tiba Asih berseru agak keras dan mudah-mudahan tidak sampai terdengar di kamar ibu atau adik-adiknya, "Maas.. maas Asiih suudah nggaak kuaat Maas, aduuhh Maas, Asiih sekaraang aduuh, keluaar aaccrhh", serta badannya seperti kejang-kejang, dan kubantu orgasmenya dengan memeluknya kuat-kuat serta kupercepat kocokan keluar masuk penisku di dalam vaginanya sambil kubisiki, "Asiihh teruuskan saa..yang teruuskaan sampaii Asih panas", tapi bersamaan berhentinya seruan Asih saat orgasme, kulihat sekelebat wajah perempuan entah Ami atau Ari menutup korden kamar Asih lalu berjingkat pergi dan Asih kelihatannya tidak tahu dan aku pun tidak akan kasih tahu. Tidak lama kemudian Asih terdiam dengan nafasnya yang tersengal-sengal dan menciumi seluruh wajahku serta membisikiku "Maas, maas hebaat, Asiih baru bisaa puaas sekarang dan Asiihh capeek bangeet maas."

Karena mendengar Asih mengatakan capai, aku jadi tidak tega lalu kubilang "Assiih, kalau asih capek istirahat saja duluu Mas cabut dulu yaa.. punya Mas?"
"aahh biaarkan sajaa.. duluu maas, maskan belum keluaar", jawab Asih tenang sambil mencium wajahku. Kulihat nafas Asih sudah normal kembali dan kedua tangannya diusap-usapkan di punggungku sambil masih tetap menciumi wajahku dan kurasa ini sebagai tanda bahwa Asih sudah siap lagi, lalu pelan-pelan aku mulai menggerakkan pinggulku lagi sehingga penisku mulai keluar masuk vaginanya yang semakin basah sambil kusedot-sedot salah satu puting susunya dan terdengar jelas bunyi, crroott crroot, pada saat penisku masuk ke dalam dan Asih masih diam saja mungkin sedang menikmati enaknya dinding vaginanya digesek-gesek penisku. Makin lama kocokan penisku semakin kupercepat dan sekarang terasa Asih sudah menggerakkan pinggulnya sehingga penisku terasa semakin nikmat sehingga tanpa sadar aku mendesis, "Aasiih enaak Aas aduuh enaak Aas", dan hampir bersamaan Asih pun mulai mendesah, "Maas.. Asiih jugaa Maas teruus maas aduuh.. enaak maas." Gerakan penisku keluar masuk semakin kupercepat dan terasa spermaku sudah di ambang pintu mau keluar dan kucoba menahannya sambil kutanyakan,
"Asiih maas sudaah nggaak kuaat keluarkannya dimanaa Aas?"
"Maas, biariin di dalam maas, Asiih pingin disemprot maas ayoo sama samaa Maas ayoo sekaraang Maas!" dan aku berseru agak keras
"aaccrhh aahh Maas keluaar aaccrhh", sambil kupererat pelukan dan penisku kutekan dalam-dalam ke vaginanya dan hampir bersamaan Asih pun berteriak cukup keras,
"Maas aacrhh maas Asiih keluaar." sambil menggerakkan pinggulnya secara liar. Setelah itu kami sama-sama terdiam tapi dengan nafas yang tersengal-sengal dan segera kucabut penisku dari dalam vagina Asih dan langsung kupakai celanaku tanpa me-lap lagi dan kubilang, "Asiih Mas pulang kesebelah dulu yaa, takut dicariin."



Sesampainya di rumah mertuaku yang cuma sebelah rumahnya Asih, aku tidak melihat tanda-tanda ada yang masih ada yang bangun. Lalu kukunci semua pintu-pintu dan aku langsung tertidur di dekat ke 2 anakku. Siang harinya waktu aku sedang ngobrol dengan beberapa keluarga istriku di rumah mertuaku, tiba-tiba telepon berbunyi dan salah seorang memanggilku. "Maas ada telepon dari Mbak Sri", (nama Istriku)."Maas", kata istriku dalam telepon, "Kayaknya aku belum bisa pulang hari ini mungkin baru besok, habis ibu banyak yang perlu diurus. Jaga anak-anak ya Maas", kata istriku mengakhiri teleponnya.

Keponakan Ku Seksi 2

Sambungan dari bagian 01

Kira-kira jam 3 sore, sedang nikmat-enaknya baca koran di ruang tamu rumah mertuaku sambil minum kopi. Si Ami (anaknya adik ibu mertuaku yang masih duduk di kelas 1 SMU dan adiknya Asih) datang menghampiriku lalu duduk di kursi sebelahku dengan wajah yang agak serius. "Ooom, Ami mau ngomong sedikit dengan om", (menceng juga si Ami ini, aku masih terhitung Masnya kok malah di panggil om). Aku jadi agak deg-degan melihat wajah Ami yang serius itu dan aku jadi yakin kalau yang mengintip tadi malam itu pasti dia, tapi dengan mencoba menenangkan diri aku bertanya pelan.


"Ami, ada apa kok kelihatannya serius benar sih?"
"Ami mau cerita ke Ibu dan Mbak Sri, soal om tadi malam dengan Mbak Asih", sahut Ami dengan ketusnya.
"Lho, lho tenaang sedikit dong Aam, Om kok tidak mengerti maksud Ami", jawabku dengan sedikit gemetar.
"aah om ini pura-pura tidak mengerti, padahal Ami melihatnya cukup lama apa yang om lakukan dengan Mbak Asih di kamarnya."

Aku jadi benar-benar kaget mendengar kata-kata Ami, yang rupanya cukup lama melihat apa yang kukerjakan dengan Asih, tapi aku masih berusaha tetap tenang dan berpikir, "Masak sih kalah dengan anak kemarin sore?"
"Ami..", kataku lirih tapi tetap kubuat agar setenang mungkin,
"Jadi Ami lama melihatnya? Kok Ami sampai tahu sih", tanyaku lagi. Dengan tetap menunjukkan wajahnya yang serius segera Ami menceritakan bahwa tadi malam, sewaktu selesai pipis di kamar mandi dan mau kembali ke kamarnya, samar-samar seperti mendengar orang sedang merintih. Karena berpikiran pasti ada yang lagi sakit, lalu Ami mencari dari mana datangnya suara rintihan itu dan ternyata datangnya dari kamar mbaknya. Tetapi karena rintihannya terdengar bukan seperti rintihan orang sakit, Ami membatalkan niatnya untuk masuk kamar mbaknya, tetapi hanya mengintip lewat korden yang menutupi pintu kamarnya Asih yang setengah terbuka dan diperhatikannya agak lama. Ami segera meninggalkan kamar mbaknya dan lalu pergi tidur karena Ami menyangka kalau aku melihatnya sewaktu wajahku menatap ke arah pintu kamar Asih.

"Oooh, Ami melihatnya cukup lama yaa? jadi tahu doong semuanya", kataku seperti bertanya tapi tidak mendapat jawaban dari Ami yang tetap membisu.
"Amii", kataku tetap lirih sambil kupegang tangannya,
"Toloong doong Am, jangan cerita ke orang lain apalagi ke Ibu dan Mbak Sri, om janji tidak ngulangi lagi deeh dan om mau deh bantu Ami apa saja, asaal Ami tidak cerita-cerita", kataku lanjut. Ami tidak segera menjawab kata-kataku dan juga tidak berusaha melepas tangannya yang kupegang, tapi tiba-tiba Ami menarik tangannya dari peganganku dan balik memegang tanganku sambil mengguncangnya serta berkata,
"Jadii om mau bantu Ami?" Mendengar kata-kata Ami terakhir ini, dadaku terasa agak plong.
"Amii, seperti kata om tadi, om akan bantu Ami apa saja asaal Ami janji tidak cerita-cerita", jawabku dengan sedikit penuh kekhawatiran.
"Jadii apa yang bisa Om bantu buat Ami?" tanyaku melanjutkan.
"Amii janji deeh om, cuma Ami saja yang tahu", kata Ami lalu diam sebentar.
"Oom begini.." kata Ami lalu dia menceritakan kalau pacarnya mau ulang tahun besok dan Ami mau mentraktir makan dan memberikan hadiah ultah pacarnya, karena dulu dia juga diberi hadiah sewaktu ultah, tetapi waktu kemarin minta ke ibunya bukannya diberi tetapi malah dimarahi. Setelah Ami menyelesaikan ceritanya lalu kutanya,

"Amii.., Ami butuh uang berapa..?" Ami tidak segera menjawab, tapi kemudian katanya, "Yaa terserah om saja seratus ribuu juga boleh Om", katanya sambil meremas tanganku yang dari tadi dipegangnya. Tidak kusangka aku bisa diperas oleh anak kecil, tapi yaa.. apa boleh buat daripada rahasia terbongkar, kataku dalam hati sambil terus kucabut dompetku dari kantong belakang dan mengeluarkan uang sebesar 250 ribu dan kusodorkan ke tangan Ami sambil kukatakan, "Nih Am, om kasih dua ratus lima puluh ribu buat Ami tapi sekali lagi janji lho yaa?" Ami menyambut uang yang kusodorkan sambil memelototkan matanya seperti tidak percaya serta berseru "Betuul niih Om?" dan aku menjawabnya dengan senyuman saja dan tiba-tiba Ami berdiri, memelukku sehingga kedua payudaranya yang kurasa lebih kecil dari payudaranya Asih kakaknya menempel di dadaku serta terus mencium pipiku sambil berseru "Maa kasiih yaa om, Ami janjii deeh", dan langsung mau lari kabur karena kesenangan. Tetapi langkahnya tertahan ketika tangannya kupegang dan segera kukatakan, "Amii tunggu dulu doong kita ngobrol dulu mumpung tidak ada orang." "Ngobrol apaan sih om", tanya Ami sambil duduk kembali di kursinya.

"Ami, om mau tanya yaa, tadi malam Ami melihatnya sampai lama sekali kenapa sih? pasti Ami pernah melakukannya juga yaa dengan pacar Ami?"
"aahh om siih mancing-mancing", jawab Ami sambil tertawa cekikikan.
"Benarkan Am? Buat apa sih om mancing-mancing, lihat dari jalannya Ami saja, Om sudah yakin kok kalau Ami sudah pernah", kataku sedikit serius agar Ami mempercayai omongan bohongku, padahal dari mana tahunya, kataku dalam hati. Ami sepertinya sudah termakan dengan omonganku, lalu sambil menggeser kursinya mendekati kursi yang kududuki Ami segera bertanya,
"Bee..tul yaa om? Jadi kira-kira ibu apa juga tahu om?"
"Aduuh mati.. saya Om, kalau ibu sampai tahu?" kata Ami sedikit sedih dan ketakutan. Karena aku sudah bisa menguasai Ami, lalu kuteruskan saja gombalanku.
"Amii, coba deh ceritain ke om dan om juga yakin kalau ibu tidak akan tahu, karena sesama wanita biasanya tidak bisa melihat gelagat-gelagatnya", kataku dan kelihatannya Ami percaya betul dengan gombalanku.

Setelah diam sebentar dan mungkin Ami sedang berpikir dari mana mau memulai ceritanya, lalu setelah menarik nafas panjang kudengar Ami mulai bercerita, "Begini om.." untuk menyingkat cerita, jadi pada prinsipnya Ami sudah dua kali melakukan dengan pacarnya yang duduk di kelas 2. Pertama, dilakukan di rumah pacarnya, tapi baru saja menyenggol barang Ami, eh.. sudah muncrat dan yang kedua katanya kira-kira dua minggu yang lalu dan kembali dilakukan di rumah pacarnya, barang Ami terasa sakit sewaktu pacarnya mulai menusukkan barangnya, tapi ketika Ami baru memegang barang pacarnya, eh.. tiba-tiba barang pacarnya mengeluarkan cairan putih dan langsung letoi, kata Ami sambil terus ketawa cekikikan.

"Oom.., apa sih enaknya gituan?" tanyanya.
"Ami kok tidak pernah merasakan apa-apa, tapi yang tadi malam sepertinya Mbak Asih kok terus-terusan merintih keenakan dan om juga begitu", katanya lagi.
"Memangnya nikmat yaa om?" Gila juga anak-anak sekarang ini, pikirku, sudah berani berbuat sejauh itu padahal Ami baru kelas 1 SLA.
"Yaa nikmat doong Mii", kataku sambil kuusap-usap salah satu pipinya yang terasa sangat mulus dengan punggung tanganku dan kelihatannya Ami diam saja dan menikmati usapan itu.
"Pacar Ami saja yang payah yang tidak bisa membuat Ami nikmat memangnya Ami kepingin yaa", sambungku.
"Iiihh om genit aah", jawab Ami sambil menepuk pahaku agak keras lalu terdiam sesaat seperti sedang berpikir.
"Oom.." kata Ami sambil terus berdiri dari kursi,
"Ami mau pergi dulu yaa mau cari-cari hadiah."
"Oh iyaa.. om yang tadi terima kasih yaa", katanya lagi sambil terus beranjak meninggalkanku, tapi baru beranjak selangkah Ami segera berbalik melihatku sambil berkata,
"Oom, nanti malam tolong ajarin Ami pelajaran kimia yaa?" Karena takut Asih curiga lalu kujawab saja permintaan Ami,
"Tidak mau ah Am, besok siang saja nanti Mbak Asih curiga."
"Lho Om Tris tidak tahu yaa kalau Mbak Asih dan ibu tadi pagi pergi ke Surabaya mau lihat Bapak?"
"Apa tadi tidak pamit, Om?" kata Ami sambil terus pergi tanpa menunggu jawabanku.

Malam harinya setelah selesai mendengarkan Dunia Dalam Berita dan beranjak mau mengunci pintu-pintu rumah mertuaku lalu terus tidur, muncul si Ami dari rumahnya sambil agak berlari dan memegang pintu yang akan kututup serta langsung berkata,
"Lho om sudah mau tidur?"
"Iyaa Am, om sudah ngantuk", jawabku malas.
"Yaa om kok gituu, katanya mau ngajarin Ami, ayo dong om ajarin pelajaran kimia", rengek Ami sambil mengguncang tanganku. Melihat Ami hanya pakai celana pendek dan baju yang cekak sehingga perut dan pusarnya kelihatan, memdadak kantukku jadi hilang, lalu sambil keluar dari pintu dan menutupnya dari luar, lalu kujawab,
"Ayoo kalau mau Ami begitu." Ami duduk di tempat di satu satunya tempat duduk yang diduduki oleh Asih kemarin di meja makan sambil membuka buku pelajarannya dan karena tidak ada kursi lain, aku berdiri di belakang kursi yang diduduki Ami. Ketika aku menuliskan dan menerangkan rumus-rumus kimia, aku hanya menjulurkan kepalaku kesamping kanan kepala Ami dan sesekali kualihkan pandanganku ke dalam baju Ami dan terlihat payudara Ami yang kecil tanpa memakai BH. Melihat ini penisku mulai berdiri di dalam celana pendek yang kupakai, sedangkan Ami tetap serius mendengarkan keterangan-keterangan yang kuberikan dan tidak menghindar atau menjauhkan badannya kala aku beberapa sengaja menempelkan pipiku ke pipinya. Pada saat Ami sedang menulis jawaban soal-soal yang kuberikan, kudekatkan wajahku ke wajahnya dan sengaja kuhembuskan nafasku ke dekat kupingnya sehingga Ami sambil terus menulis berkomentar, "Oom, nafasnya kok panas?" Komentar Ami tidak kujawab, tapi segera kucium pipinya dua kali dan Ami segera menghentikan menulisnya dan berkata, "Oom, jangan nakal dong", sambil kembali mau menulis.

Karena nafsuku semakin meningkat dan Ami hanya mengatakan begitu, keberanianku semakin bertambah dan pelan-pelan tanganku menyelusup lewat baju pendeknya bagian bawah dan kudekap kedua payudara Ami yang kecil itu serta kuremas pelan, dan kulihat dia melepaskan pinsil yang dipegangnya dan menutup kedua matanya sambil berdesah lirih, "Ooom sshh jaangaan Ooom", dan memegang serta meremas pelan kedua tanganku dari luar bajunya. Sambil tetap kuremas-remas payudaranya, segera wajahku mencari bibir Ami dan kucium dan Ami seperti kesetanan melumat bibirku dengan ganasnya sehingga dalam benakku terlintas pikiran anak sekecil ini kok sudah pintar berciuman. Dengan masih tetap kudekap kedua payudaranya dan berciuman, kugunakan kekuatan badan dan sikuku untuk merubah posisi kursi yang diduduki Ami dan setelah kuanggap baik, sambil tetap kucium bibirnya kulepaskan dekapan tangaku pada payudaranya dan kuraih kedua pahanya serta kubopong badan Ami serta kukatakan, "Amii, kitaa ke kamar Mbak Asih yaa", Ami tidak menjawab tapi hanya memegangkan tangannya ke bahuku.

Kutidurkan Ami di tempat tidur kakaknya dan segera kuangkat bajunya dari bawah serta kujilat dan kuhisap-hisap payudara Ami yang masih terbilang kecil, maklum baru kelas 1 SLA tapi sudah berani belajar intim dengan pacarnya dan Ami meremas-remas rambutku sambil mendesah, "Ooom, Ooom sshh sshh Ooom." Kuteruskan jilatan dan isapanku di kedua payudaranya bergantian dan kugunakan tangan kananku berusaha mencari dan membuka celana pendek Ami dan setelah kutemukan ternyata celana pendeknya memakai ritsluiting. Kubuka ritsluitingnya pelan-pelan dan kususupkan tanganku kedalam CD-nya serta kuelus permukaan vaginanya yang kecil dan terasa masih licin dan mulus seperti punya bayi tanpa ada bulu-bulunya dan ketika kuelus permukaan vaginanya, terasa Ami menggerakkan pinggulnya pelan dan masih tetap dengan desahannya yang kudengar semakin agak keras, "Ooomm sshh sshh Ooom." Lalu sambil mengelus vagina Ami yang cembung, kuselipkan jari tengahku di belahan vaginanya dan terasa sudah basah sekali dan jari telunjukku itu kutekan agak masuk dan kuusap-usapkan sepanjang belahan vaginanya dan ketika sampai di clitorisnya yang terasa kecil, kuusap-usapkan di seluruh clitorisnya sehingga membuat Ami menggelinjang agak keras dan mendesah semakin kuat, "Ooom sshh oom jaangaan oom sshh", dan desahan ini membuat nafsuku semakin tinggi dan penisku semakin tegang dan agak sakit terjepit celana pendekku.

Perlahan-lahan aku menurunkan badanku kebawah dan jilatanku pun sudah disekitar perut dan pusarnya, dan kedua tanganku kugunakan melepas celana pendek dan celana dalam Ami bersamaan, sedang tangan Ami masih tetap meremas-remas rambut dan kepalaku. Sambil melepas kedua celananya, mulutku sekarang sudah sampai di vaginanya yang menggembung mulus tanpa bulu-bulu sama sekali dan tercium bau aroma vagina yang khas. Karena Ami masih tetap merapatkan kedua kakinya, lalu kugunakan kedua tanganku untuk membuka kedua kakinya. Pertama-tama agak susah karena Ami berusaha menahan supaya kakinya tetap rapat sambil terdengar rintihan desahannya, "Ooom jaangaan oom suudaah oom", tetapi ketika lidahku kujulurkan dan kujilati sepanjang belahan vagina Ami yang agak terbuka itu, pertahanan kaki Ami untuk tetap merapat itu sudah hilang dan kedua kakinya dapat kubuka lebar dengan mudah dan terlihat bagian dalam vagina Ami yang basah dan kemerahan itu dan malah terasa Ami menaik-naikkan pinggulnya tapi tetap mengeluarkan rintihannya, "Ooom, suudaah oom sshh oom."

Semakin Ami mendesah atau merintih, nafsuku semakin kuat dan kujilati seluruh bagian vagina Ami dan sesekali klitorisnya kuhisap-hisap membuat desahan Ami semakin kuat dan kedua tangannya semakin keras meremas-remas rambut dan menekan kepalaku sehingga seluruh wajahku terasa basah semuanya dengan cairan yang keluar dari vaginanya, dan beberapa saat kemudian kurasakan gerakan pinggulnya naik turun semakin cepat dan jambakan di rambutku semakin kuat serta desahannya semakin keras, "Ooohh ooh oom aduuh oom sshh aahh ooh", dan aku jadi agak kaget karena tiba-tiba kepalaku terjepit kedua kakinya yang dilingkarkan di badanku serta kepalaku ditekan kuat-kuat ke dalam vaginanya serta tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan erangan agak kuat, "Aah aah aduuh Ooom aahh Ooom enaak", lalu Ami terkapar diam, kedua kakinya yang tadi menjepit kepalaku jatuh di atas kasur disertai nafasnya terengah-engah dengan cepat, rupanya Ami telah mencapai orgasmenya.

Kami Melakukanya lagi saat kesempatan ada

Akibat Pijatan Nikmat

Ini adalah kisah antara aku dengan Om Haryy (pamanku yang berusia 10 tahun lebih tua dariku dan masih menumpang di rumahku), ketika usiaku 16 tahun. Sedikit latar belakang yang mendasari peristiwa ini dapat anda baca di cerita dengan judul "Akibat Pijatan Nikmat"

Ketika itu rumah memang sedang sepi, hanya Om Haryy dan aku saja yang ada di rumah. Kedua orang tuaku sedang berlibur ke Bali dan kakak-kakakku yang sudah berkeluarga sudah pindah ke lain kota. Pembantu-Pembantu pun tidak ada karena memang saat itu hari lebaran.

Sambil malas-malasan, aku menonton televisi sendirian karena Om Haryy juga belum pulang malam itu, jadi sekalian saja menunggu Om Haryy (yang katanya akan membawa temannya malam itu). Sebetulnya aku agak kesal dengan berita itu karena aku berharap Om Haryy dapat melakukan kegiatan "rutin" kami yang biasa kami lakukan sejak aku berumur 16 tahun.

Bunyi bel di pintu memecah konsentrasiku pada acara televisi, dan aku pun sudah menebak bahwa itu pasti Om Haryy beserta temannya yang ada di luar pintu.

"Malam, Om"
"Malam Anna, ini kenalkan teman Om Tomi"

Teman Om Haryy ternyata adalah seorang keturunan Pakistan-Cina dengan tampang yang notabene diatas rata-rata. Tubuhnya tegap, dadanya bidang dan perawakannya yang lumayan tinggi telah mendapatkan simpatiku.

"Anna, Tomi ini jago pijat lho"
"Anna kagak capek kok Om, jadi kagak usah dipijat" sahutku sambil memasang tampang kesal di depan kedua orang itu.
"Anna, kamu jangan gitu dong sama teman Om. Dia sengaja Om undang malam ini untuk memijatmu karena Tomi bukan pemijat biasa, dia ahli kecantikan"

Setelah mendengar kata-kata kecantikan yang ternyata cukup ampuh untuk mengubah pikiranku, aku pun setuju untuk dipijat oleh Tomi.

"Tomi, kamu mandi dulu deh setelah itu giliranku"

Dan selama Tomi mandi, Om Haryy menerangkan kepadaku bahwa Tomi adalah seorang pemijat professional yang dapat mempercantik pasien-pasien nya, dan kepiawaiannya telah banyak terbukti.

"Ok deh, Om. Anna mau dipijat oleh Tomi dengan syarat nanti malam Om mau melakukan kegiatan "rutin" kita"
"Iya, Anna, Om janji"

Setelah selesai mandi, Tomi hanya mengenakan celana training sambil bertelanjang dada.

"Tomi, kamu mulai saja pijatnya. Aku mandi dulu," kata Om Haryy.

Dengan tampang masih kesal aku pun menuju ke kamar Om Haryy yang ternyata telah secara diam-diam dipersiapkan untuk pijat malam ini. Kamar itu telah dilengkapi dengan lilin-lilin yang ditata rapi berjajar diseluruh dinding ruangan; tidak lupa juga minyak tradisional untuk keperluan pijat.

Lumayan juga selera Om Haryy, begitu pikirku. Kami pun masuk dan membiarkan pintu sedikit terbuka karena memang tidak ada orang lain lagi di rumah itu yang akan menganggu kegiatan kami. Tomi merengkuh pinggangku sambil menuntunku ke tempat tidur Om Haryy yang cukup lebar.

"Anna, saya hanyalah seorang pemijat, dan kalau kamu tidak keberatan, saya akan pijat kamu dalam keadaan bugil"

Tomi pun meninggalkan aku memberi aku waktu untuk bersiap-bersiap sementara dia menunggu di luar kamar Om Haryy. Dengan perasaan heran tapi demi memenuhi janji Om Haryy dan membayangkan bahwa aku akan mendapat kepuasan dari Om Haryy malam ini, aku pun cuek saja dan langsung melepaskan semua pakaianku dan mengambil handuk untuk menutupi bagian pinggulku ketika berbaring tengkurap.

Karena menunggu Tomi terlalu lama, aku pun tertidur (karena suasana ruangan yang gelap temaram itu juga mendukung kantukku).

Setelah Tomi memijatku beberapa lama, tenyata tanpa kusadari Om Haryy yang setelah selesai mandi hanya mengenakan kimono saja, duduk di kursi sambil melihat Tomi yang sedang memijatku. Ketika aku terbangun, kurasakan lembutnya tangan Tomi memijat-memijat kepalaku dan memang kuakui pijatannya professional sekali. Minyak yang digunakannya juga terasa segar di tubuh dan berbau enak.

Tomi mengatur posisi tubuhku yang tengkurap sehingga kedua tanganku direntangkan ke arah samping. Setelah memijat kepalaku, Tomi pun memijat leherku dan beranjak ke tanganku yang dimulai dari ujung-ujung jari. Kemudian tak beberapa lama, konsentrasinya beralih ke bagian samping tubuhku yang memang menantang karena tanganku terentang ke samping. Pertama-Pertama dituangkan nya minyak ke bagian samping bahuku sehingga cairan yang dingin menuruni susuku menuju kea rah putingnya memang membuatku tersentak. Karena licinnya minyak itu, kadang-kadang tangannya mengena pentilku, dan itu membuatku semakin terangsang.

Setelah selesai dengan pungguku, Tomi pun beralih ke ujung-ujung jari kakiku, dan pelan-pelan naik ke pahaku. Ketika disingkapkannya handuk yang menutupi bagian pinggulku, aku pun mengalami rangsangan yang terasa sangat erotis, mungkin karena dengan begitu aku bisa memamerkan memekku ke orang yang baru kukenal. Pijitannya di pahaku dilakukannya tanpa menyentuh memekku yang sudah mulai basah itu, dan itu membuatku sedikit kecewa.

Tetapi hal yang tak kusangka-kusangka terjadi ketika dia mulai sedikit demi sedikit menuangkan minyak ke belahan pantatku, otomatis aku menggelinjang dan meregangkan selangkanganku. Sebelum aku sempat untuk berpikir lebih jauh, Kedua tangannya yang bertumpuk satu sama lain telah mencakup semua memekku dan memijat-memijat nya. Kedua tangannya masuk lebih dalam untuk memijat perutku sehingga otomatis pergelangan tangannya yang memang penuh minyak itu mengurut-mengurut memekku dan kelentitku. Perasaan yang kurasakan luar biasa karena gerakan itu sekaligus membuat pusarku geli dan memekku seperti diusap-diusap.

Pelan namun pasti, Tomi membalikkan badanku, dan langsung saja tangannya menuju ke payudaraku dengan pentil-pentil nya yang sudah mencuat tanda aku memang sudah terangsang hebat. Gerakan tangannya yang berputar-berputar itu ternyata tidak menyentuh pentilku sama sekali, dan itu membuatku semakin memajukan dadaku ke arahnya berharap agar Tomi segera menyentil puncaknya yang sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk disentuh. Tomi pun tersenyum karena aku yakin bahwa dia pun tahu kalau aku ingin pentilku disentuhnya. Tak lama kemudian, harapanku menjadi kenyataan, tetapi bukan dengan jari-jari nya, Tomi meletakkan telapak tangannya yang sudah licin itu tepat diatas kedua pentilku.

Dengan gerakan memutar-memutar, Tomi "memijit" pentilku, semakin lama gerakannya semakin cepat dan semakin menekan susuku. Dengan berakhirnya gerakan itu pula aku melepaskan eranganku yang pertama tanda aku mencapai orgasmku yang pertama. Bukannya menghentikannya, Tomi malahan menyentil-menyentil pentilku dengan ujung-ujung jarinya, dan setelah pentilku menjadi keras kembali, Tomi memasang alat perangsang berbentuk lingkaran di kedua pentilku. Ternyata alat itu dapat membuatku terangsang terus-menerus terlebih ketika aku bergerak-bergerak, terasa alat yang seperti cincin itu memberikan kegelian yang sangat di ujung pentilku sehingga kedua puncak itu tetap mencuat keras.

Pelan namun pasti, pijatannya beralih kea rah perutku dan Tomi mulai menjilat-menjilat pusarku yang ternyata amat merangsang birahiku. Kembali kurasakan cairan hangat mengalir melalui memekku yang pasti telah berkilat-berkilat karena banyaknya lendir yang keluar. Lama kelamaan, pijatannya turun ke bagian dibawah pusar dengan gerakan memutar, dan gerakan itu menambah banyaknya cairan yang keluar sampai akhirnya aku mencapai orgasme yang kedua. Betapa hebatnya pijatan-pijatan Tomi ini yang ternyata tanpa disetubuhi pun aku bisa mendapatkan orgasme sampe dua kali.







Ketika aku belum reda dengan orgasmeku yang kedua kalinya, Tomi membuka selangkanganku lebar-lebar dan merekahkan kedua bibir memekku dengan tangan kirinya. Kemudian dengan telapak tangan kanannya (ke empat jari-jarinya), dia mulai menepuk-menepuk pussyku yang terpampang lebar di depannya. Gerakan-Gerakan itu bermula dengan pelan, dan setiap kali "tamparan" nya mengenai bibirku yang sudah basah itu, aku tersentak-tersentak antara rasa kaget dan erotis.

Akhirnya, pukulan-pukulan kecil itu bertambah keras dan cepat seiring dengan aku mendapatkan sensasi yang luar biasa di rondeku yang ketiga. Aku orgasme hebat diselingi erangan-erangan ketika tamparannya mengenai memekku dengan cairan kentalnya yang mengalir deras sampai ke bongkahan pantatku.

Kemudian Tomi memasangkan suatu alat yang aneh sekali di pinggangku, berupa sabuk dengan penis buatan yang berukuran sedang dengan permukaannya yang dipenuhi tonjolan-tonjolan yang tidak sama besarnya maupun tingginya. Keseluruhan alat itu berbentuk seperti ikat pinggang dengan celana dalam yang dilengkapi dengan penis mencuat kea rah dalam. Setelah agak reda, Tomi memberiku segelas air putih sambil menunggu sampai aku agak tenang kembali, dan pelan-pelan memasukkan penis itu ke dalam lubang memekku dan memasangkan strap-strapnya ke pinggangku. Tomi juga mengganjal pinggangku dengan tumpukan bantal sehingga penis itu yang telah dilumuri lubricant, dapat dengan mudah masuk ke lubang memekku.

Alat yang aneh itu ternyata memiliki remote control yang tidak terhubung dengan kabel sehingga tidak merepotkan pemakainya. Setelah dirasanya cukup siap, Tomi melebarkan kakiku dengan memekku yang telah tertancap penis palsu itu. Kemudian, dia menekan tombol di remote control yang ternyata menyebabkan alat itu bergerak memutar pelan-pelan seakan-seakan menggaruk rahimku. Dan oleh gerakan itu, maka seluruh dinding rahimku kegelian.

"Argh, argh, hmph hmph.."
"Enak kan, Anna?"
"Oh, alat biadab, oh, oh, oh"

Di tengah-tengah permainan itu, Tomi menambah getaran-getaran kecil di alat itu sehingga aku merasa melambung dibuatnya. Alat itu ternyata dapat pula mengeluarkan cairan dari bagian ujungnya, sehingga rahimku terasa disemprot-disemprot oleh cairan yang seolah-seolah terasa seperti cairan air mani.

"Oh, oh, Tomi, Anna sudah mau keluar"

Dan seketika itu Tomi menghentikan alat itu, dan tampak sekali di wajahku rasa kecewa yang amat sangat.

"Please Tomi, Anna mau, Anna nggak tahan Tomi, gerak-gerak in lagi Tomi"

Bukannya menurutiku, Tomi hanya senyum-senyum sendiri melihatku, dan aku pun tidak tahan akhirnya hanya memegang-memegang kelentitku saja. Tiba-Tiba Tomi mengulurkan tangannya, dan mengajakku untuk berdiri.

"Aku akan turuti permintaanmu jika kamu mau melakukan syaratnya"
"Please, Tomi apa aja akan aku lakuin"
"Kamu harus berjalan-berjalan di luar kamar ini dengan alat itu"
"Siapa takut, tapi please Tomi, sudah tanggung tadi"

Karena cincin yang masih terpasang di pentil-pentil ku bergoyang-bergoyang setiap kali aku bergerak, maka aku pun mulai terangsang lagi. Kemudian aku pun melangkah keluar kamar dan mulai berjalan-berjalan. Tiba-Tiba kurasakan alat itu kembali beroperasi mengorek-mengorek isi rahimku, kakiku pun menjadi lemas karena sensasi yang kurasakan lebih hebat dengan posisi tubuhku yang berubah-berubah dan kedua kaki ku yang tetap kupaksakan melangkah menambah rangsangan di kelentitku dan memekku.

"Tomi, Anna tidak kuat berjalan lagi, oh please" sambil berjalan terseok-terseok aku pun merintih-merintih.
"Ayo kamu teruskan atau alat itu kuhentikan"

Akhirnya aku hanya dapat menuruti kemauan Tomi untuk terus berjalan-berjalan dengan alat yang semakin dasyat mengorek-mengorek rahimku dengan tonjolan-tonjolan nya itu. Ketika aku mencapai orgasmeku, Aku pun terjatuh lemas di sofa.

Kemudian, Tomi menghentikan alat itu tepat ketika aku mencapai orgasmeku dan dengan hati-hati dia membereskan alat itu melepaskan nya dari pinggangku. Aku pun terkulai lemah untuk beberapa saat sebelum Tomi akhirnya membopongku ke dalam kamar Om Haryy dan merentangkan kedua pahaku untuk siap dimainkan oleh penis asli milik Om Haryy yang sudah berdiri tegak mencuat itu.

"Thank you banget, Tomi, aku sangat menikmati permainan ini. Sekarang kamu boleh pulang," kata Om Sam sambil memberi Tomi sejumlah uang.
"Om, Anna sudah nggak kuat lagi Om," dengan tampangku yang sudah pasrah demi melihat kemaluan Om Haryy yang sudah berdiri.
"Om hanya memenuhi janji Om, Anna"

Malam itu, akhirnya aku tertidur kecapaian setelah mendapatkan empat kali orgasme lagi dengan Om Haryy dari berbagai posisi. Keesokan harinya, aku terbangun dengan posisiku yang mengangkang lebar menantang.

TAMAT
Kamis, 19 Desember 2013

Korban Papaku

Saya mengalamai pengalaman sex pertama saya dengan seorang laki-laki yang sebelumnya saya sangat respek padanya, laki-laki itu adalah papa saya sendiri.

Papa mempunyai kebiasaan yang buruk yaitu senang sekali bermabuk-mabukan dan membawa wanita jalanan ke rumah ketika mama sedang mengurusi bisnisnya ke luar negeri.
Papa dulunya seorang businessman yang sangat sukses yang bergerak di bidang jasa perbaikan kendaraan, bahkan bengkel papa sebelumnya sangat terkenal di negeri ini karena kekhususannya mengurusi mobil-mobil mewah.
Add caption

Dulu papa sangat perhatian dan sangat sayang kepada kami, sampai akhirnya ketika krismon melanda negeri ini, kelakuan papa berubah 180 derajat, mulai dari bermabuk-mabukan sampai bercinta dengan wanita jalanan di rumah kami sendiri.

Dua tahun telah berlalu setelah krismon, bisnis papa semakin terpuruk, sehingga kami terpaksa mengadu nasib di negeri kangguru. Kami tidak tahu kelakuan papa selanjutnya, karena papa tinggal sendirian di rumah di Jakarta dengan seorang pembantu laki-laki.

Sampai akhirnya ketika saya dan adik saya Dania (bukan nama sebenarnya) pulang liburan ke Jakarta pada tahun 2002. Ketika itu, papa memintaku untuk magang di bengkelnya. Seperti kondisi sebelumnya, memang sedikit sekali pelanggan yang datang ke bengkel papa, sehingga terlihat sangat sepi.

Pada suatu hari saya mendapati papa sedang mabuk di ruangan kerjanya. Ketika itu aku menghampiri papa untuk menegurnya. Entah kenapa tiba-tiba papa menarikku dan mencumbuiku dengan paksa. Dia memaksakan memasukkan lidahnya ke mulutku sambil tangan kanannya meremas pantatku dan tangan kirinya meremas payudaraku.

Aku sudah berusaha untuk mengelak darinya, tapi ternyata tenaga papa lebih besar dari tenagaku. Entah kenapa tiba-tiba ada suatu rasa yang nikmat yang menjalar di sekujur tubuhku, dan payudaraku terasa mulai mengeras. Papa mulai memainkan lidahnya di dalam mulutku, dan secara reflect lidahku membalasnya.

Aku merasakan celana dalamku mulai basah, dan aku sepertinya mulai terangsang oleh cumbuan papa. Peristiwa itu berlangsung selama 8 menit. Tiba-tiba papa melepas pagutan bibirnya dari bibirku, dan sepertinya dia mulai tersadar dari mabuknya. Papa mendorong tubuhku dan meminta maaf sambil menitikkan matanya penuh penyesalan.

Setelah itu saya segera pulang dengan mobilku sendiri, sedangkan papa masih harus melanjutkan pekerjaannya. Selama dalam perjalanan pulang, saya menangis karena masih terbayang dengan perbuatan papa tadi. Perasaan benci, kecewa, tapi bercampur dengan rasa nikmat yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan. Ketika sampai di rumah, saya mendapati celana dalam saya masih basah, dan saya langsung masuk ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa jijik saya.

Ketika saya mandi, saya masih membayangkan perbuatan papa tadi, sampai secara tidak sadar, saya meremas payudara saya. Saya mulai merasakan nikmat yang luar biasa, bercampur dengan guyuran shower yang mengalir di sekujur tubuhku. Siraman air shower terasa nikmat sekali di memek saya, dan secara tidak sadar, saya mulai mengelus memek saya.

Perasaan nikmat semakin menjadi-jadi sampai akhirnya seluruh tubuhku mulai mengejang dengan hebatnya, dan cairan hangat keluar dari memek saya. Setelah itu tubuh saya terasa lemas, dan akhirnya saya tertidur pulas setelah selesai mandi.

Keesokan paginya waktu saya sedang sarapan, papa kembali meminta maaf kepadaku, tetapi aku bingung menyikapinya, karena di lain sisi aku menginginkan kejadian kemarin terulang kembali.

Setelah itu papa berangkat ke kantor dan saya mengantarkan adik saya ke rumah temannya. Selama di kantor, segala sesuatu berjalan seperti biasa, sampai ketika saya hendak pulang, mobil saya tidak bisa dihidupkan, dan mekanik anak buah papa tidak sanggup menyelesaikannya hari itu juga.

Akhirnya saya ke ruangan papa untuk mengajak pulang bareng. Ternyata seperti biasa papa sedang mabuk-mabukan lagi. Walaupun sedang mabuk, papa masih tetap sadar dan mengajak saya untuk pulang saat itu juga. Segalanya berjalan dengan normal selama dalam perjalanan pulang, sampai di dekat rumahku, papa menghentikan mobilnya dan tiba-tiba dia membuka celananya dan memerintahkanku untuk memegangnya.

Tiba-tiba papa memanggilku dengan nama mamaku. "Nancy, tolong elus kontol gua dong, gua udah lama gak elu isepin!" Tentu saja aku kaget, ternyata selama mabuk, papa menganggapku sebagai mama, karena kemiripan mukaku dengan muka mama. Karena ada dorongan setan, aku mulai memegang dan mengulum kontol papa yang ternyata besar sekali sampai-sampai tidak cukup masuk ke dalam mulutku.

Secara reflek saya mulai memaju-mundurkan kepala saya dan mulai menjilati biji peler papa. Pada saat itu, papa mulai mengelus paha saya, dan akhirnya tangannya melepas celana dalamku. Kemudian jari-jarinya bermain di bibir memekku.

Selama lima menit, papa memainkan memekku, hingga akhirnya cairan hangat mengalir dari memekku, aku merasakan nikmat yang luar biasa. Setelah beberapa menit kemudian, aku sudah hampir sampai untuk kedua kalinya, tiba-tiba cairan putih keluar dari kontol papa, dan tertelan olehku, dan rasanya gurih sekali. Setelah itu, papa menjadi lemas dan mengeluarkan jarinya dari dalam memekku, sehingga aku merasa nanggung.

Saat itu juga, papa langsung tertidur di dalam mobil, dan karena merasa kesal, aku pulang jalan kaki, yang jaraknya tidak jauh dari rumahku.

Sampai di persimpangan jalan rumahku, aku bertemu dengan kakak kelasku di SMA yang sudah 2 tahun tidak ketemu, namanya Bang Jhonny (bukan nama sebenarnya) yang terkenal playboy waktu di SMA dulu. Tampang Bang Jhonny sebenarnya biasa-biasa saja, entah kenapa dia bisa menjadi playboy. Kami bersalaman dan dia berusaha memelukku dengan erat, aku berusaha menolaknya, karena tidak ingin Bang Jhonny tahu kalau celana dalamku basah.

Aku berlari ke rumahku, dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan memekku. Sambil mandi, aku mulai masturbasi kembali, karena perasaan nanggung tadi masih ada. Setelah selesai mandi, aku mengenakan daster tanpa celana dalam dan bra karena kebiasaanku setiap tidur. Setelah itu aku tidur tanpa sempat makan malam.

Pada saat aku sedang tidur nyenyak, aku merasakan ada yang sedang berusaha melepaskan tali dasterku. Karena masih capek akibat orgasme yang berulang kali tadi, aku tidak bisa terbangun. Tangan itu menjalar sampai ke payudaraku dan aku merasakan lidah sedang bermain di pentilku.

Tanpa sadar aku mengerang nikmat, dan membayangkan papaku sedang melakukannya. Kemudian bibir itu terus bergerak menuju leherku sampai akhirnya berhenti di bibirku. Aku membalas pagutan bibirnya dan tiba-tiba aku tersadar dan terbangun. Aku mendorong tubuh itu yang ternyata adalah papaku.

Dengan sekuat tenaga papa tetap memaksaku dan semakin liar perlakuannya kepadaku, sehingga dasterku robek, sehingga tubuh indahku terlihat di depan matanya. Dengan paksa dia mengangkangkan kedua kakiku dan mulai menjilati memekku. Aku berusaha menjauhkan kepala papa dari memekku sehingga papa terjengkang dari tempat tidur.

Papa segera bangkit dan menarik tubuhku sambil menampar pipiku dengan keras. Dilucutinya semua pakaiannya sehingga hanya tubuh polosnya yang terlihat. Tanpa basa-basi aku didorongnya kembali ke tempat tidur dan sekarang mencoba untuk memasukkan kontolnya ke lobang kenikmatanku.

Dengan pasrah aku menuruti kemauannya karena menurutku sudah percuma untuk menolak lagi. Dia mulai menggenjot memekku kedepan dan belakang. Karena aku berusaha melawan memekku terasa sangat perih, lagi pula saat itu aku masih perawan dan lubangnya sangat sempit. Tetapi setelah lama kelamaan ternyata aku mulai menikmati permainannya dan mulai menggerakkan pantatku naik turun. Beberapa lama setelah itu kurasa cairanku mendesak memek dan terasa akan keluar.

Dengan segera kupercepat gerakan pantatku dan akhirnya aku berteriak nikmat karena aku mencapai puncak kenikmatan. Beberapa saat kemudian papa membalikkan tubuhku dan mulai mengelus lubang pantatku serta menjilatinya. Aku yang sudah sangat lemas sebenarnya sangat jijik dengan perlakuannya, tetapi seperti sebelumnya aku hanya bisa pasrah. Papa yang sudah sangat bernafsu segera menghujamkan kontol besarnya ke dalam lubang pantatku.

Tanpa sadar ternyata meneteslah darah dari memek dan pantatku bercampur dengan cairan vaginaku. Aku berteriak dengan kerasnya karena rasa sakit luar bisa dari lubang pantatku. Mendengar teriakanku papa semakin nafsu menghujamkan kontolnya berkali-kali sambil menjambak rambutku dengan kerasnya. Papa semakin mempercepat gerankan kasarnya, dan seketika dia mengejang dan berteriak keras, aku merasa cairan sperma papa terus menerus mengalir masuk ke pantatku.

Setelah puas dengan semua prilakunya papa tergeletak lemas disampingku dan aku hanya bisa merenungi nasibku. Hilang sudah keperawananku yang selama ini kujaga dan ternyata harus kurelakan direnggut oleh orang yang sangat ku hormati dan sejak saat itu aku merasa telah berkhianat pada mamaku.

Walaupun setelah perawanku direnggutnya aku semakin sering melakukan hubungan sex dengan papa selama berada di Jakarta. Selain dengan papa, aku juga sering melakukan sex dengan Bang jhonny yang akhirnya menjadi pacarku.

Tapi kini Bang jhonny telah meninggalkanku untuk selama-lamanya karena dia overdosis narkoba. Karena telah sering melakukan hubungan sex, aku menjadi seorang maniak yang selalu butuh sentuhan lelaki.

Intan Anakku Yang Seksi

Namaku Herman, 35 tahun, adalah seorang  ayah duda dengan 2 orang anak. Badan sedikit atletis dengan tinggi badan yang mendukung. Sebagai lelaki yang tinggal di kota besar, sebagai wiraswasta di Bandung . Dengan tubuh tinggi kekar, dan kulit yang kuning, walau sudah menikah dan punya anak yang sudah cukup dewasa, tapi masih banyak wanita yang selalu menggodaku. Di samping istri lagi koma akibat kecelakaan, kesetiaan kepada istriku tdk menghiraukan segalanya.

Anaknya yang paling besar, Intan, 16 tahun, seorang anak yang yang baik dan penurut pada orang tuanya. Anak kedua, Yenny, 14 tahun, seorang anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Dalam Kehidupan sexual Marlina (istriku) sebetulnya tidak ada masalah sama sekali berhubung dia lagi koma, agak menahan gimana gejolak jika adik keci beranjak. Walau banyak wnita klienku yang menggoda, tak sedikitpun ada niat dia untuk mengkhianati Marlina.

Tapi ada sesuatu yang berubah dalam diri Herman ketika suatu hari secara tidak sengaja melihat anak pertamanya intan, sedang berpakaian setelah mandi. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Herman dengan jelas melihat Intan telanjang. Matanya tertuju pada gundukan  dan vagina lebat intan yang dihiasi dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.

Sejak saat itu Herman pikirannya selalu teringat pada tubuh telanjang anaknya itu. Bahkan seringkali Herman memperhatikan intan bila sedang makan, sedang duduk, atau sedang apapun bila ada kesempatan. Ingin Menjamah Tubuh Anak Kandungnya, Tapi antara Takut dan berani. Sehingga selalu ngintip anaknya di saat mandi dan sambil menggosok-gosok penisnya ke tembok.

"Ada apa pa, kok liatin intan terus?" tanya intan ketika Herman memperhatikannya di ruang tamu.
"Tidak ada apa-apa, sayang.. Hanya saja papa jadi senang karena melihat kamu makin besar dan dewasa," ujar Herman sambil tersenyum.
"Kamu sudah punya pacar, tan ?" tanya Herman.
"Pacar resmi sih belum ada, tapi kalau sekedar teman jalan sih ada beberapa. Memangnya kenapa, Pa?" tanya Intan.
"Ah, tidak. papa hanya pengen tahu saja," ujar Herman.
"Kamu pernah kissing?" tanya Herman.
"Ah, Papa.. Pertanyaannya bikin malu Intan ah..." Ujar intan sambil tersenyum.
"Yaa.. Tidak apa-apa kok,sayang.. Jujur saja pada Papa. Papa juga pernah muda kok. Papa mengerti akan maunya anak muda kok..." ujar Herman sambil mencubit pipi Intan. Intan pun tertawa.
"Ya, Intan pernah ciuman dengan mereka," Ujar Intan.
"Ngga samapai lebihkan?" tanya Herman lagi.
"Maksudnya, Paa?" tanya Intan tidak mengerti.
"Making LOve.. Bersetubuh..." ujar Herman sambil mempraktekkan ibu jarinya diselipkan diantara telunjuk dan jari tengah.
"Wah kalau itu Intan belum pernah, Paa.. Tidak berani. Takut hamil..." ujar Intan. Herman tersenyum mendengarnya.
"Kenapa Papa tersenyum?" tanya intan.
"Karena kamu masih sangat polos, sayang..." kata Herman sambil mencubit pipinya Intan, lalu bangkit untuk menyiapkan segala sesuatunya karena Herman mau berangkat kerja.

Malam harinya Intan dan Yenny asyik menonton TV, sedangkan Herman sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.

"Ciuman rasanya gimana sih?" tanya Yenny ketika menyaksikan adegan ciuman di televisi.
"Ah, kamu.. Masih kecil! Tidak perlu tahu," ujar Intan sambil mengucek-ngucek rambut Yenny.
"Tidak boleh begitu, Sayang, tiba-tiba Herman mendengar dan mendatanginya.. Adikmu harus tahu tentang apapun yang dia tidak mengerti. Biar tidak salah langkah nantinya..." ujar Herman sambil menatap Intan.
"Begini, Yen..." ujar Herman.
"Ciuman itu tidak ada rasa apa-apa.. Tidak manis, pahit atau asin. Hanya saja, kalau kamu sudah besar nanti dan sudah merasakannya, yang terasa hanya perasaan nyaman dan makin sayang kepada pacar atau suami kamu..." ujar Herman lagi.
"Ah, nggak ngerti..." ujar yenny.
"Mendingan Yenny tidur saja, ah.. Sudah ngantuk..." ujar Yenny.
"Ya sudah, tidurlah sayang," ujar Herman. Yenny kemudian bangkit dan segera menuju kamar tidurnya.

Ketika menyaksikan adegan ranjang di televisi, Herman bertanya kepada Intan, "ko kelihatan serius bgitu sayang".
"Intan belum punya pacar, Paa.. Mereka hanya sekedar TTM saja," jawab Intan.
"Tapi kok kamu bisa ciuman dengan mereka?" tanya Herman lagi sambil tersenyum.
"Ya namanya juga iseng..." jawab Intan sambil tersenyum juga.
"Sudah sejauh mana kamu melakukan sesuatu dengan mereka?" tanya Herman.
"Tidak apa-apa kok, Sayang.. Bicara terbuka saja dengan papa," ujarnya Herman lagi. Intan menatap mata ayahnya sambil tersenyum.
"Ya begitulah..." kata Intan.
"Ya begitulah apa?" tanya Herman lagi.
"Ya begiutlah.. Ciuman, saling pegang, saling raba..." ujar Intan malu malu. Herman pun tersenyum.
"Hanya itu?" tanya Herman lagi.

Intan melirik ke arah kamar adiknya yang sedang tidur.
"Papa jangan bilang ke Mama ya?" ujar Intan.
Herman tersenyum sambil mengangguk. Intan lalu beringsut mendekati Herman.
"Intan pernah oral dengan beberapa teman wanita..." ujarnya sambil berbisik.
Herman tersenyum sambil mencubit pipi Intan.

"Nakal juga ya kamu!" ujar Herman sambil tersenyum.
"Rasanya bagaimana?" tanya Herman sambil berbisik.
"Sangat enak, Paa..." ujar Intan.
"Walaupun mencoba dengan sesama temen wanita, soalanya masih takut begituan ama cwo,..Tapi Intan dengar, katanya kalau punya Intan di masukkin punya cwo kata temen intan, rasanya lebih enak.. Benar tidak, paa?" tanya Intan.

Herman kembali tersenyum tapi tidak menjawab... (sambil bersorak gembira dalam hati ....wahh durian runtuh)

"Kamu mau tahu rasanya, sayang ?" tanya Herman sambil memancing. Intan mengangguk, tapi takut.
"Ngga apa ko sayang, klo mau Sini ikut papa..." ajak Herman sambil bangkit lalu pergi ke kamar belakang. Intan mengikuti dari belakang.

Sesampai di kamar belakang, Herman menarik tangan Intan agar mendekat.

"Ada apa sih, Paa?" tanya Intan.
"Karena kamu sudah dewasa, Papa anggap kamu sudah seharusnya tahu tentang hal tersebut," ujar Herman dengan nafas agak memburu menahan gejolak yang selama ini terpendam terhadap anaknya tersebut.
"Ciumlah papa sayang..." kata Herman sambil mengecup bibir Jimmy.

Intan diam karena  bingung tidak tahu harus berbuat apa. Herman terus melumat bibir anaknya itu sambil tanggannya masuk ke dalam baju intan. Lalu dengan lembut diremas dan di pilin-pilin payudaran anaknya. Karena tidak tahan merasakan rasa enak, intan dengan segera membalas ciuman Herman dengan hangat.

Sambil terus meremas payudara intan, Herman berkata, "Kamu ingin merasakan rasanya bersetubuh kan, sayang?".
"Iya, Paa..." ujar Intan dengan nafas mendesah.
"Papa juga sama, Sayang.. Papa ingin merasakan hal itu dengan kamu," ujar Herman.

Diusap, dibelai, diremas, lalu di sedot puting intan sampai tegang dan tegang. Intan terus mendesah tidak karuan, sambil merasakan rasa nikmat pada dirinya.

Intan sambil membalasnya dengan mengocok kontol Herman.
Wahh Hebat juga nih anak, batin Herman.
 Kemudian Herman merebahkan tubuh anaknya, lalu melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Intan terus membayangkan apa yg di alami saat kontol bapaknya menembus lubang vaginanya.

"Buka baju kamu dong, sayang," ujar Herman.
"Iya, Paa..." ujar Intan sambil mengangkat bahunya lalu melepas celana roknya.
Dengan Garang Herman lalu menerkam memek putri sulungnya, menjilat dan menyedot. Jilatan dan hisapannya membuat Intan bergetar tubuhnya menahan nikmat yang amat sangat.

"Mmhh.. Enakk, Paa..." desah Intan sambil menggerakan tubuhnya ngga karuan.
“Paa Intan mau pipis,...bilang Intan
“Ngga apa sayang keluarin aja, Jawab Herman
Tubuh intan menegang di ikuti siraman air madu vagina anaknya, yang meluber kemuka Herman.
Herman melepas jilatanya, sambil tersenyum menatap wajah Intan yang tengadah merasakan nikmat.
“Gimana Sayang?”, Tanya Herman
"Enak Paa..." ujar intan.
“Mau yang lebih enak lagi?”,
"Iya, Paa..." jawab intan.

Herman lalu naik ke ranjang anaknya. Lalu segera dibukanya paha lebar-lebar.. Intan langsung mendekatkan memekya ke ke kontol Herman. Lalu segera di masukkan seluruh permukaan memek intan, walaupun agak susah Herman mencoba lagi. Intan terpejam menahan geli tiba-tiba menjerit pelan, aduuhh sakit paa.
“Tahan sayang bentar lagi enak ko, Herman  coba menenangkan.
Herman mencoba menggerakkan pelan kontolnya keluar masuk, pelan-pelan di ikuti memegang payudara dan mencium bibir intan.. Mata intan terpejam, tubuhnya bergetar sambil menggoyangkan pinggulnya.

"Ohh.. Enakk.. Teruss, paa..." desah intan.

Setelah sekian menit Herman menunggangi memek putrinya, tiba-tiba tubuh putrinyanya bergetar makin keras, di tekannya kepala kontol Herman ke memeknya, lalu segera dijepit dengan pahanya.. Tak lama...

"Ohh.. Mhh.. Ohh..." desah intan panjang. Marlina orgasme.
"Ohh, enak sekali paa.. intan mau pipis lagi.

Tahan sayang papa juga sama, kita keluarin bareng ya. Jawab Herman

Tak lama.. Crott! Crott! Crott! Air mani Herman muncrat banyak di dalam memek intan. Herman dan intan akhirnya terkulai lemas..

"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Herman.
"Sangat nikmat, Paa.. Lebih nikmat daripada oral..." ujar intan sambil memeluk papanya.
"Intan sangat sayang papa," ujar intan.
"Papa juga sangat sayang kamu," ujar Marlina.

Lalu mereka berpelukan telanjang.
Hingga babak kedua dan seterusnya hingga malam panjang.
*****
Sejak saat itu mereka selalu melakukan persetubuhan setiap ada kesempatan. Hanya saja ketika Istri Herman bangun dari koma, mereka terpaksa harus bermain di luar sambil menyewa hotel, dan kadang di dalam mobil. Tapi sekarang sudah jarang setelah Intan lulus dan kuliah di Surabaya Tinggal Bersama Nenaknya.
Minggu, 01 Desember 2013

Sintaku Yang Manis

Semua ini berawal beberapa tahun yang lalu, saat aku masih kelas II SMU. Saat itu aku pergi ke kota Jakarta, mumpung lagi libur, sekalian mengunjungi saudara-saudara yang ada di sana. Disana aku nginep di tempat Oomku yang punya tiga anak, yaitu Agung, Sinta, dan Dina. Agung sudah kuliah, Sinta sebaya dengan aku (lebih tua dia tiga bulan), dan Dina masih SMP kelas II. Aku masih ingat betul, nyampe di Jakarta hari Senin sore di Stasiun Gambir, dan saat itu langsung disambut oleh Oomku sekeluarga.

"Hai Vit, gimana kabarnya? Wah, tambah gede aja lo. Mama baik?" dan beribu pertanyaan dan komentar yang harus aku tanggapi di perjalanan dari stasiun ke rumah Oomku.
Tapi, pikiranku bukannya tertuju ke pertanyaan-pertanyaan itu, tapi justru kepada Sinta sepupuku, benarkah itu Sinta? Si gadis culun itu? Bukan, sekarang Sinta sangat jauh berbeda dengan yang kutemui 2 tahun lalu. Dulu dia sangat polos, wajahnya biasa saja, bodinya juga kerempeng, tapi sekarang? Wauw, waktu benar-benar telah merubahnya, kulitnya yang putih, wajahnya yang imut-imut dibalut make up tipis, dan perubahan yang paling nampak adalah bodinya yang semlohai dibungkus kaos ketat membuat dadanya begitu menantang dengan ukuran kira-kira 36B. Gue cuman bisa menelan ludah.
"Hoi, diajak ngomong malah ngelamun."
Sialan nih si Agung, bikin napsu gue jadi ngedrop.
"Iya nih si Vito, dari tadi diajakin ngomong kaga nyambung-nyambung", timpal Sinta sambil menggelendot manja di pundak gue.
Dia memang akrab banget sama gue, dari kecil sama-sama, main bareng, mandi bareng, tapi udah lama nggak, soalnya gue pindah dari Jakarta ke kota gue sekarang waktu masih kelas IV SD, ngikut bonyok.


Aku cuman bisa senyum-senyum, nggak lama kemudian, kita nyampe, dan aku pamit mau mandi dulu. Pas gue mandi, sialan adek gue kaga mau turun-turun, ngaceng terus mikirin bodinya Sinta, buset dah, gimana ya rasanya megang toket segede gitu? Terus terang aja aku belum pernah megang toketnya cewe, apalagi ngentot, paling mentok ya ngocok sendiri. Terlebih ukuran kontol gue termasuk pas-pasan, cuman 14 cm kalo lagi ngaceng. Dengan ukuran yang cuman segitu, gue jadi minder ngedeketin cewe. Pelajaran sex gue dapetin dari nonton Blue Film.

"Vit, ngapain lo di dalem? Lama banget, gantian dong, gue juga mau mandi nih!" Sinta teriak dari luar.
Gue melongok, buka pintu dikit.
"Ngapain Sin? Kamu mau mandi juga?"
"Yoi, cepatan donk, lo mo ngikut kaga? Gue mo nyusul bokap neh."
"Lho, emangnya pada kemana?"
"Pergi semua ke Oom Yong, ntar kita nyusul aja".
"Hmm, pada pergi semua, kesempatan nih", pikir gue.
"Ya udah, kita mandi bareng-bareng aja yuk".
"Gile lo Vit, mandi bareng?"
"Iya, kita kan udah biasa mandi bareng".
"Itu kan dulu! Sekarang ya udah nggak pantes kalo kita mandi bareng"
"Ahh, sekarang atau dulu kan sama aja."
Lalu gue tarik dia masuk ke kamar mandi, nggak sengaja tangannya nyenggol kontol gue yang masih ngaceng. Muka Sinta langsung merah padam, malu kali.
"Napa Sin? Malu? Ga usah malu, kan kita udah biasa mandi bareng, sini aku bukain bajunya"
"Vit! Lo gila ya? Udah ah, gue males main-mainnya. Kita kan udah pada gede Vit."
"Lho, apa salahnya sih? Mandi bareng kan nggak pa pa?" Sinta diem aja.
"Udah, sini aku bukain bajunya"
Gue pura-pura cuek, berlagak bener-bener mau mandiin beneran, padahal jantung gue udah mau copot rasanya. Gile nih anak, bodinya bagus banget, ini toket beneran bukan sih.

"Gue sabunin ya?"
Sinta diem aja saat gue siramin air dari shower, lalu gue sabunin seluruh tubuhnya, lalu pas tangan gue di toketnya, sengaja gue lama-lamain, ouuhh, nikmat dan benar benar kenceng, trus gue mainin pentilnya, gue pilin-pilin, diputer, dielus-elus, Sinta diem, tapi dari nafasnya yang memburu gue tau kalo dia udah mulai terangsang.
"Aahh, Vit, jangan digituin dong, geli."
"Tapi enak kan? Udah, diem aja, nggak usah ribut".
Gue terus aja cemek-cemek itu toket, dan Sinta mulai mendesah nggak keruan,
"Mmmhh.. mmhh.. aduuhh.. Geli ah, Vit. Udah dong"
"Napa sih Sin, lo bawel amat? Ini lagi dibersihin, lagi disabunin, diem aja napa?"
Gue salut ama diri gue, bisa bersikap sok cuek seperti gitu, padahal Sinta udah mendesah nggak keruan.
"Aaahh, terus Vit, teruuss, aahh.. oohh, god, enak banget."
"Ih elo jangan mendesah seperti gitu dong, gue jadi pengen juga nih, sini, gue tuntun elo ke jalan yang benar"

Tangan Sinta gue tarik, terus gue suruh dia pegang-pegang kontol gue, pertamanya memang masih pegangannya masih agak kaku, tapi lama-kelamaan jadi makin enak, terlebih buat gue, yang belum pernah tau kenikmatan duniawi. Dan Sinta pun makin lama makin lihai dalam memainkan kontol gue, gue merem melek, sambil terus meremas-remas toket Sinta, dan desahan- desahan yang keluar dari mulut kami sudah tak beraturan.
"Teruus Siin, oohh, gile beneerr oohh.., aahh.." terus gue kelamotin pentil Sinta yang berwarna pink tua (bukan pink, tapi juga bukan coklat.
"Sluurrpp.., sluurrpp.., crruup.."
"Aahh,.. teruuss Viit, adduuhh, gue nggak tahann, enaakk bangeet.. oohh.. oohh.. auuhh.."

Pelan-pelan gue deketin kontol gue ke bagian bawah perutnya, terus gue gesek kontol gue di bibir memeknya. Sinta melenguh, "Oouuhh,.. ouhh.. oohh.. ahh"
"Auuhh.. auuhh.. Vit.. gue jadi pengen pipis nih.. auuhh.. oohh"
Gue gesekin kontol gue lebih cepat, Sinta makin beringas, badannya meronta nggak beraturan.
"Ahh.. uuhh.. Vit.. Gue.. gue.. pipis.. ahh.. ahh.."
Sinta menggelinjang, tangannya mencengkeram punggung gue.
"Sin, gue masukin ya, sayang.."
"Jangan, Vit, jangan"
"Ayo dong Sin.., gue nggak tahan nih, gue kepengen tau rasanya ngentot"
"Jangan Vit! Gue.., gue.. masih.. Please, Vit, jangan.."
"Masa elo nggak pengen tau enaknya ngentot, Sin?"
"Iya, tapi please Vit, jangan, gue belon pernah digituin, gue masih.. masih.. virgin. please.. jangan.."
"Gue jadi nggak tega ngeliatin mukanya yang memelas"
"OK, nggak pa pa deh, tapi elo mau kan bantu gue? Tolong pegang-pegang kontol gue dong, nanggung nih.. cuman pegang aja, kocokin sampe gue pipis juga. Mau ya? Please."
Sinta mengangguk, lalu mulai memegang-megang kontol gue lagi, lalu mulai mengocoknya dengan gerakan maju mundur, ahh, enak banget..
"Sin, jilatin donk, diemut juga boleh.."

Pada mulanya Sinta menolak, tapi berkat jurus rayuan mautku, akhirnya dia mau meniup 'seruling'ku.
"sluurrpp.., sluurrpp.., crruup.."
"Aoohh, teruuss, Siinn.. oohh.. teruuss.. jilatin, Sin.. oohh."
Mendengar desahanku, Sinta makin bersemangat, jilatannya makin ganas, dari pangkal sampai ujung kontolku dijilatinya sampai tak bersisa, lalu dikulum, diemut maju mundur, aku sampai blingsatan dibuatnya.
Sampai pada akhirnya, "Ahh.., Siinn.., teruuss, jangan dilepaass.. sedoot yang kuaatt.."
Croott.., croot.., cruut.. cruutt.. cruutt.. pejuku menyemprot keluar sebagian di mulutnya, dan sebagian lagi menyemprot di dada dan mukanya. Ooohh, benar-benar nikmat.., inikah surga dunia? Belum tentu, karena gue belum tahu, ada yang lebih menyenangkan dari ini.

Setelah kejadian di kamar mandi itu, gue dan Sinta berangkat ke rumah Oom Yong naik taksi, dan setelah berbasa-basi sebentar, ngobrol-ngobrol dengan Oom Yong, kami pulang bersama-sama ortunya Sinta.
Agung memecahkan keheningan di mobil, "Vit, nanti kamu tidur di kamarku aja, kita ngobrol sampe pagi."
Belum sempat aku ngejawab, Sinta udah menimpali, "Kasian dong, udah Capek di kereta, masih mau diajak ngobrol, biar di kamar gue aja, ntar gue tidur sama Dina. Lagian kamar elo jorok, bau. Udah Vit, elo di kamar gue aja. ntar gue gantiin sepreinya."


Malam itu, kira-kira jam sepuluh lebih dikit, gue belum bisa tidur, gue masih kepikiran kejadian di kamar mandi tadi sore, tau-tau pintu kamar diketok, gue buka dikit, Sinta di depan pintu sambil cengar-cengir.
"Napa Sin?"
"Ssstt, nggak pa pa, gue cuma pengen ngobrol bentar, mau kan?"
Sinta masuk, diam-diam aku nelen ludah lagi, gile bener, pakaiannya, baby doll dari bahan tipis, membuat apa yang ada di dalamnya jadi nyaris terlihat.
"Dina sudah tidur?" aku membuka pembicaraan.
"Sudah, eh, omong-omong, tadi sore bener-bener enak loh Vit."
Deg. Sinta langsung to the point, jantung gue mulai dag Dig dug lagi.
"Sorry Sin, aku tadi nggak niat gitu, tapi kebawa napsu aja, sorry ya Sin, Elo mau kan maapin gue?"
Di luar dugaan, Sinta malah ketawa pelan, "Nggak pa pa kok Vit, aku justru mau ngomong makasih, soalnya aku belum pernah ngerasain seenak itu. Dari dulu gue pengen ngerasain dicumbu sama cowok, tapi gue kan nggak boleh pacaran sama Papa, jadinya ya nggak kesampaian. Tadi aku udah ngerasain, rasanya benar-benar enak banget. Tapi jangan diulangi lagi ya, gue takut ntar kebablasan."

Kami ngobrol nggak lama, dan nggak terasa gue ketiduran. Ngga tau berapa lama kemudian, gue terbangun, dan sempet kaget juga ternyata Sinta tidur di sebelah gue, dengan posisi miring, gue cuek aja, dan ngeloyor keluar mau ambil minum, pas gue balik ke kamar, posisi Sinta udah berubah menjadi telentang, dan mau tak mau gue melihat pemandangan yang mengasyikkan itu, dua buah gunung kembar yang menjulang, dan kakinya sedikit menekuk ke samping, sehingga CD pink-nya yang bergambar bunga-bunga terlihat jelas.

Batang kejantananku mulai mengeras, dan darahku rasanya sudah naik ke ubun-ubun, sialan, ni anak bener-bener bikin napsu, serta merta gue deketin dengan hati-hati dan kuusahakan supaya nggak ngagetin dia, pelan pelan gue buka bajunya, kebetulan baju tidurnya adalah baby doll tipis dengan kancing di depan, sehingga usaha gue bisa berhasil dengan mudahnya. Tangan gue mulai bergerilya, dan gue raba toketnya yang sekel itu lalu gue remes pelan2, tapi gue nggak puas sampe disitu, BHnya gue tarik ke atas pelan-pelan sampe toketnya keluar dari BH, terus gue emut pentilnya dan gue kulum-kulum pelan, Sinta menggeliat sebentar, tapi nggak terbangun, setelah gue rasa aman, baru gue lanjutin bergerilya, CDnya gue tarik ke bawah, dan terlihat rerimbunan jembut yang nggak begitu lebat. Sinta menggeliat lagi, dan gue berhenti.

Setelah beberapa menit, gue mulai lagi, gue buka celana gue biar si kecil nggak tertekan di dalam CD gue, gue lebarin kakinya Sinta, terus gue jilatin lipetan memeknya, hmm, baunya benar-benar merangsang, gue buka lipetan memeknya itu, dan terlihat merah merekah, lalu gue jilatin lagi, dan terasa ada daging sebesar kacang, inikah yang disebut clitoris? Ah, peduli amat, gue jilatin terus memeknya Sinta, dan gue fokus di clitorisnya sampe basah dan Sinta mulai gerak-gerak lagi, wah, celaka kalo sampe bangun, bisa berabe nih, tapi udah kepalang tanggung, gue kaga peduli lagi, gue udah nggak tahan, kakinya Sinta gue angkat, terus pelan-pelan gue masukin kepala kontol gue ke bibir memek Sinta, Sinta terbangun dan kaget, langsung gue sodokin kontol gue, bleess.
"Aahh, adduuhh.." pekik Sinta.
Langsung gue tutupin mulutnya pake tangan.
"Aahh,.. hepp.. ssh.."
Gue mulai gerakin kontol gue maju mundur, ouhh.. sempit banget, dan Sinta mengerang-erang kesakitan, tapi setelah berapa lama, dia mulai tenang, trus gue lepasin tangan gue dari mulutnya.
Gue bisikin, "Sstt jangan teriak Sin, ntar ada yang denger. Kamu nikmatin aja, OK?" Sinta cuma mengangguk lemah.

Langsung aku goyang maju mundur, kiri kanan sekuat tenaga.
Sinta mendesah, "Emmpphh.. emmhh.. emhh.. akkhh.. ahh.. oouuhh.."
"Masih sakit Sin?"
"Ngga.., sekarang malah jadi enak.., terus Vit, jangan berhenti.."
"Goyangin pantatnya Sin"
Sinta menurut dan menggoyangkan pantatnya.
"Akkhh.. ahh.. ahh.. ouuhh.. ouuhh.. terruuss.. Viitt teruuss.. terruuss.. oouuhh.. enak banggeet.."
Gue makin bernapsu denger desahan Sinta, gue tarik kontol gue sampai sebatas kepala zakar, trus gue sodok sekenceng-kencengnya, gue sodok-sodok terus, Sinta semakin blingsatan dan memek Sinta makin terasa becek dan hangat di kontol gue. Crepp.. crepp.. crepp.. crepp.. gesekan kontol gue dan memek Sinta yang becek menimbulkan bunyi-bunyi yang merangsang.

"Oohh.. ahh.. auuhh.. ahh.."
Sinta mendesah nggak keruan dan sepertinya dia sangat menikmati permainan ini, aku terus aja nyodok, makin lama makin cepat.
"Auuhh.. oohh.., Viitt,.. aku.. aku.. nggak tahaann.., enaakk.. terruuss.. dikiitt lagii.. aahh.. truuss goyanngg.. aahh, gue.. pipiiss.."
Serr.. serr.. serr.., gue liat Sinta udah nyampe, kontol gue seperti disiram air hangat, gue goyang lebih cepat.
"Tahaann.. bentaarr.. Sin.., akuu.. jugaa.. mauu.. keluuaarr.."
Dan akhirnya cruutt.. cruutt.. cruutt.. gue semprotin peju gue di dalam memek Sinta, sambil gue goyangin terus kontol gue. Akkhh, ini baru surga dunia. Nikmat.

Gue tiduran di sebelah Sinta yang tersenyum lemas, senyum kepuasan, menikmati indahnya dunia, beberapa saat kemudian Sinta mencium bibir gue, trus gue balas pagut bibirnya dan kami berciuman cukup lama, seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Pada saat mau ke kamar mandi untuk ngebersihin badan, Sinta memekik kaget melihat noda darah di seprei yang baru digantinya tadi sore. Wajahnya menunjukkan setitik penyesalan, gue peluk dia, sambil mengusap-usap kepalanya.

Jujur gue katakan, gue juga menyesal, telah merenggut keperawanan seorang gadis, terlebih itu saudara sepupu gue sendiri. Tapi kini, setelah lewat beberapa tahun, hal itu masih sering kami lakukan, saat Sinta datang ke kota gue atau gue ke Jakarta, kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu dan memadu kasih layaknya sepasang kekasih, padahal saat ini gue sudah punya istri, dan seorang anak berumur enam bulan, dan Sinta sudah memiliki pacar, dan berencana untuk menikah dalam waktu dekat. Baik istri saya maupun pacar Sinta nggak menaruh curiga dengan kami, dan menganggap hubungan kami adalah sebatas saudara dekat/akrab semata.

Anak Tiriku Habis

Sambungan dari bagian 02

Aku tersentak karena teriakannya, Mia berteriak sakit, tapi aku belum memasukkan batang kemaluanku sedikit pun, baru hanya menyentuh bagian luarnya. Akhirnya aku berpikir bahwa kalau kupaksakan untuk menusuk semua batang zakarku yang panjang 17 cm, dan berdia meter 5 cm ini, akan berakibat fatal, yakni Mia bisa jadi tidak ikut ke pesta atau datang ke pesta dengan jalan terjingkat-jingkat. Aku putuskan bermain dengan menggesekkan batangku di bibir vagina yang tembam itu. Aku berhenti sejenak, dan bertanya pada Mia.

"Apa kamu merasakan nikmat Nak..?" tanyaku lembut sambil mengelus keningnya.
"Ia Pa.., tapi ada sakitnya.." jawab Mia lugu.
"Kamu pernah seperti ini Sayang..?" tanyaku lagi.
"Belum Pa.., Ciuman aja baru sama Papa tadi ini.." katanya lugu.
"Benar kamu belum pernah ciuman..?"
"Benar Pa.. sumpah.."

Kalau soal di luar ciuman aku percaya dia belum pernah, karena dari tadi sejak aku mulai mengelus buah dadanya sampai menciumi dan bahkan menekan zakarku ke vaginannya, dia kaku tanpa mengibangi, hanya pinggulnya yang bergerak, itu pun dikarenakan naluri kewanitaannya.


Percakapan aku sambung lagi sambil tetap berpelukan tanpa busana dengan posisi aku masih di atas, dan batang besarku tetap kutempelkankan pada vagina Mia. Memang kuraskan mulai agak mengendur.

"Kamu pasti belum puas..?" kataku.
"Maksud Papa puas itu seperti apa..?" tanyanya lugu.
"Puas itu ialah mencapai kelimaks, yang tandanya Mia merasakan seolah-olah kayak pipis, tapi tidak pipis, dan setelah itu badan Mia terasa lemas." jelasku.
"Ah.., Mia enggak ngerti ah Pa.." dia kelihatan binggung.
"Tapi Mia maukan mencoba dan merasakannya..?" tanyaku merayu.
"Emm.., mau sih Pa.., tapi tidak pakai sakit Pa.." jawabnya manja.
"Boleh deh.." jawabku singkat.
"Janji ya Pa..!" pintanya manja.
"Janji.." kataku.
"Sekarang Mia peluk Papa dan cium bibir Papa sperti tadi.."

Tanpa malu-malu lagi Mia memeluk dan menciumku dari arah bawah. Aku pun segera menyambut ciumannya dengan menjulurkan lidahku masuk ke dalam mulutnya, Mia pun langsung bermain dengan lidahnya. Sedangkan bagian bawah mulai kutempelkan, dan aku gerakkan ke kiri dan ke kanan. Naik dan turun, sehingga sedikit demi sedikit kemaluanku mulai membesar lagi. Dan sekarang sudah mengeras seperti tadi, tetap kutempelkan di vagina Mia, naik dan turun kugesekkan pada bibir tumpukan daging yang tembab itu.

Ciuman bibir kami berhenti, karena Mia sekarang lebih banyak bersuara.
"Pa.., ahk, Pa..,"
"Enak Sayang..?"
"Ia Pa."
"Sakit Sayang..?""Tidak.. ahk..! Au..,"
"Sakit Sayang..?"
"Ahk.., i.. au.. ahkk..!"
Kuteruskan gerakanku naik dan turun sambil menekan batang kemaluanku yang sudah mengeras. Dan pelukan Mia semakin erat kurasakan.

"Apa rasanya Sayang.., enak Nak..?" tanyaku manja.
"Enggak tau Pa.., Mia rasanya mau pipis Pa.. ahk..!"
"Pa.. a.., Mia mau pipis Pa..,"
"Ah.. uhk.., ahhkk.. ahhkk.., Papa.., Mia.. Pa.. Mia mau.. Pa.., Mau pi.."
Kuhentikan gerakanku dan kurenggangkan zakarku dari vaginanya. Dan aku merosot ke bawah menuju selangkangan Mia untuk menciumi vagina yang merah jambu ini, sambil meraih dua remote untuk menyalakan TV dan VCD, yang sudah kupersiapkan, bila misi urut mengurut gagal, maka akan kualihkan dengan misi nonton VCD Porno. Tapi VCD ini akan bermanfaat untuk Mia berlajar saat aku memintanya nanti mengulum batang ajaib ini.

"Sekarang Mia pipis sepuasnya sambil Papa cium dan Mia juga sambil nonton ya..!"
"Ia Pa.."
Aku mulai mencium bagian yang sangat sensitive, Mia mengerang dan bergerak.
"Au.., Ahhk.., ahhkk.., Enak Pa.., he.. ahhk.., Pa terus yang itu Pa.. Enak yang di situ ahhkk.., Pa.. Mia sudah.. ahhkk.. aakk..
"Papa.., Mia pipis ya.., ahhkk..,"
Aku mengangguk sambil mempercepat lumatan lidahku di vaginanya, dan tidak lupa meremas-remas buah dada yang sekal itu.

"Pa.., Mia.., Pa.. pi.. aa.. hh.. akk ahhkk.., Mia ii.. Papa udah Pa.. ahhkk, Mia udah pipis Pa.., uhh..!"Benar dia sudah dapat dan mencapai orgasmenya, aku merasakan hangat di bibirku, dan badan Mia sekarang melemas sambil melipat kedua kakinya. Aku langsung naik ke atas dan berbaring di samping sisi kanan Mia. Aku cium pipinya dan kupeluk badannya yang sedang tidur telentang.Kuelus lembut buah dadanya, dia diam dan telentang tidak merasakan malu seperti tadi. Sementara batang kemaluanku masih mengeras.

TV masih menyala dengan gambar adengan porno seorang wanita bule sedang mengulum batang kemaluan pria bule. Kulihat Mia memperhatikan adengan yang ada di TV, kubimbing tangan kanan Mia menyentuh zakarku yang mengeras. Dia tidak menolak, bahkan sekarang menggenggamnya dengan keras, dan sebentar-sebentar digerakkan, aku sadar dia belum mengerti apa maksudku, sehingga kubiarkan berjalan apa adanya.

Setelah beberapa menit saling diam, sementara Mia merasakan nikmatnya pipis yang dia maksud dengan sambil menonton TV, aku juga terus memandangi tubuh yang indah ini, aku pun berkata memecahkan kesunyian.
"Sekarang kita mandi Sayang.., nanti kita terlambat ke rumah Oma.."
Dia kaget dan langsung melihat dan memelukku, dan berkata, "Terima kasih Pa.."
Aku tersenyum dan langsung menggendong tubuh mungil ini ke kamar mandi.

"Kita mandi bareng ya.., biar rapihnya cepat.." kupeluk Mia dalam gendonganku sambil kucium bibirnya, dia membalas dengan mesra.
"Lagi pula Mia kan tugasnnya belum selesai.." sambutku lagi.
"Tugas apa Pa..?" Mia bertanya sambil mengerutkan kening, dan memang dia benar-benar tidak tahu.

Sesampainya di kamar mandi, kuturunkan Mia dari gendonganku dan masih berhadapan denganku. Kukulum lagi bibirnya, dia berusaha melepas dan bertanya.
"Tugas apa Pa..?" tanyanya penasaran.
"Papa kan belum pipis seperti Mia, jadi tugas Mia bikin pipis Papa.."

Kubungkukkan badanku untuk mencium bibirnya lagi, belum puas rasanya aku menciumi semua badannya, untuk itu aku ajak dia mandi bareng.
Dia lepaskan lagi ciumanku dan bertanya, "Caranya bagaimana Pa.., apa seperti yang di film tadi..?" tanyanya lugu.
Aku tidak menjawab dengan jelas, sambil berkata aku langsung mencium bibir Mia lagi.

"Pokoknya Mia pasti bisa bikin Papa pipis.., Mia ikuti aja apa yang Papa suruh..!" tegasku.
"Tapi tidak sakit kan Pa..?" tanyanya.
"Ya.., tidak Sayang.." jawabku.

Dan langsung saja kuciumi bibirnya, sangat kunikmati, kepeluk dan kujilati lehernya sambil berdiri dan berpelukan. Kuangkat badannya dan kududukkan Mia ke atas Meja westafel yang berada di belakangnya. Kucium dengan leluasa buah dadanya di bawah sinar lampu kamar mandi yang terang menderang. Puas dengan bermain di buah dadanya dan memperhatikan dengan jelas, ciumanku pindah ke bawah perlahan, dan menuju ke arah sela-sela paha.

Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar tumpukan daging nikmat itu kujilati dengan mesra, sesekali menyentuh bagian bibir vagina Mia, sengaja kubasahi bulunya agar tidak menutupi bagian yang sangat indah ini. Kuangkat kedua kaki Mia ke atas meja westafel yang sedang dia duduki, sehingga posisinya duduk mengangkang dengan kaki menekuk. Sekarang terlihat jelas bagian dalam vagina yang muda ini, berwarna merah, cantik, masih asli dan belum melar. Kujurkan lidahku menjilati sampai ke bagian dalam, kulihat Mia menikmatinya.

"Ahhkk Pa.., udah Pa.., Mia kan tadi udah dapat pipisnya Pa.."
"Ia sayang, Papa hanya cium aja, Papa tidak bikin Mia pipis lagi.."
Kuhentikan ciumanku pada vagina Mia, karena kurasakan sudah cukup puas, dan aku pun merasa sudah tidak kuat lagi menahan desakan air maniku yang sedari tadi sudah mau keluar. Aku angkat turun Mia dan kucium bibirnya, dia membalas dengan mesra pula. Kupeluk rapat badannya dan sambil berputar, dimana aku yang membelakangi westafel. Kubimbing kepalanya ke bawah dan kudekatkan batang kemaluanku ke bibirnya.

"Mia.., Sekarang Mia bikin pipis Papa ya Nak..?"
Dia duduk berlutut bingung sambil memandangiku ke atas, aku tahu apa artinya itu.
"Mia ciumi itu seperti yang Mia lihat di film tadi."
"Mia isap-isap seperti Mia minum es krim.."

Tanpa berkomentar Mia pun bereaksi, awalnya memang aneh, hanya pada bagian ujung batang kemaluanku saja yang di kecup. Kubiarkan apa saja yang dia lakukan. Perlahan kurasakan dia mulai memegangi batang kemaluanku dengan kedua tangannya. Bibirnya pun mulai terbuka lebar, dan pelan masih gerakannya, tapi sudah mulai kurasakan setengah dari batangku masuk ke mulutnya.

Tidak begitu lama aku sudah merasakan kemahiran Mia seperti yang kurasakan kalau Mamanya bertugas seperti ini. Kupeganggi rambunya dan kepalanya lembut sambil menggerakkan maju mundur.

"Iya.., Sayang.., Papa hampir pipis Nak.."
"Terus..! Yang kencang Sayang.. Ah.. enaknya Nak.. Mia.., aduh Sayang.., enak Nak..!"
"Pintar kamu manja.."
Terus kugerakkan kepalanya maju mundur.
"Sayang terus Sayang.., jangan berhenti..! Papa hampir.., ahhkk."
"Kalau Papa mau pipis Mia langsung berdiri ke samping Papa ya.. ahhmm..!""Terus Nakk, auu ya.., Terus cium Nak..! Sambil dihisap Nak.."
"Ya, gitu.. Ya.. Ahh.., kk..,"
"Sudah Mi.., kesini..!"

Kutarik Mia ke samping dan kupegang tangan kanannya tetap memegang batang yang keras ini dan ajarkan untuk mengocok, ternyata dia cepat mahir, sehingga kulepas tangganku, dan dia terus menocok barangku. Kupeluk dia dari arah samping yang memang sudah berdiri di sisi kananku. Badannya agak sedikit membungkuk, karena tangan kanannya sedang mengocok barangku.
"Terus Sayang, yang cepat lagi, ahhkk, diremas lagi Nak..!"
"Ya.. Papa dapat sekarang sayang, terus Nak.., jangan berhenti sampai Papa berhenti pipisnya, ahhkk."

Lunglai sudah badanku lemas rasanya, kupeluk Mia dengan mesra, dan sambil kuperhatikan semburan air maniku yang mencapai satu meter itu. Pelan zakarku mengecil. Selanjunya kami pun mandi bersama saling menggosok badan tanpa ada rasa malu lagi. Mia pun tidak merasakan keseleonya yang tadi dia derita.

Selesai mandi kami pun bersalin di kamar masing-masing. Selesai berdandan aku dan Mia berangkat menuju ke rumah Omanya. Dalam perjalanan aku berpesan bahwa kejadian tadi jangan diceritakan pada siapa pun, dan kalau tidak Mia akan tidak pernah dapat pipis yang enak lagi ancamku. Dia tersenyum seolah-olah setuju.

Di pesta suasana kami berdua berjalan biasa, begitu juga sehari-hari, karena memang Mia sehari-harinya manja denganku.